yusak's attic

kumpulan tulisan pada berbagai kesempatan

Monday, March 21, 2005

neo-evangelicalisme dalam perspektif

neo-evangelicalisme dalam perspektif
‘asal usul, perkembangan(-nya di Amerika & Inggris) dan pengaruhnya pada Kekristenan secara umum
- sebuah studi awal tentang evangelicalism’[1]
Pendahuluan
Membincangkan topik ini akan melibatkan banyak sekali unsur emosional kita. Saya akan berusaha untuk mengajukan fakta-fakta historis dan analisisnya, namun saya juga sangat menyadari bahwa unsur emosional tidak akan terhindarkan. Sebab ‘omongan tentang agama’ pastilah memiliki implikasi terhadap tatanan logis maupun emosional seseorang mengenai kebenaran yang dianutnya. Dan sebagai seorang teolog, pemerhati sejarah (Kekristenan dan pemikiran Kristen) dan seorang pendeta, saya memberanikan diri mengajak kita semua memasuki pembicaraan mengenai topik yang telah menjadi banyak perbantahan di tengah-tengah jemaat-jemaat kita (dan yang juga meramaikan hiruk-pikuk jagad maya GKI – di samping jagad maya milik gereja-gereja lainnya), sambil berusaha untuk tidak terlalu cepat bereaksi secara emosional dan bersedia menimbang baik-baik data-data historis, analisisnya serta implikasinya bagi Kekristenan kita dewasa ini.
Tulisan ini disusun sebagai sebuah studi awal, yang berarti masih dapat dikembangkan lagi menjadi studi lain yang lebih luas (lebih banyak data dan subyek) dan mendalam (lebih menukik pada soal-soal spesifik). Tulisan ini disusun, terutama bagi rekan-rekan pendeta, penatua dan para aktivis gereja yang terus-menerus harus berhadapan dengan berbagai pertarungan klaim kebenaran serta berbagai tuduhan di seputar istilah-istilah modernis, ekumenikal, liberal, injili, konservatif, fundamentalis, kharismatik, mental perang salib, sekularisasi iman, dlsb. Selain istilah dan tuduhan itu kita juga mengetahui bahwa ada juga beberapa hal yang dibicarakan dalam berbagai kesempatan dan forum resmi maupun dalam suasana informal, yang ternyata kurang dipahami betul duduk persoalannya, seperti sekolah teologi ‘A’ atau ‘B’, sekolah Alkitab ‘X’ atau ‘Y’, soal penolakan terhadap para pengkotbah non-GKI, soal ibadah GKI tidak mau mengikuti trend ibadah yang lebih sesuai dengan perkembangan zaman, soal hubungan gereja-gereja kita dengan yayasan-yayasan pekabaran injil, dlsb., yang semuanya itu sesungguhnya berhubungan dengan topik yang emosional ini.
Sebagai studi awal hal-hal di atas tidak bisa ditelusuri sangat mendalam dan luas, meskipun saya akan menyinggungnya sedikit-sedikit dalam keterkaitan dengan tema umum mengenai topik yang dibahas. Saya memang memiliki harapan agar supaya pada kesempatan yang lain kita dapat lebih jauh mempercakapkan lebih mendalam mengenai topik-topik yang lebih spesifik (dan ini jugalah sebetulnya yang dimaksudkan dengan diskusi-diskusi bulanan yang diselenggarakan oleh Komisi Pengkajian Teologi GKI SW Jabar).
Apakah memang kaum Injili sedemikian jauh berbedanya dengan saudara-saudara seimannya yang lain? Seberapa sahihkah klaim-klaim kebenaran yang diajukan oleh saudara-saudara kaum Injili ini terhadap saudara-saudara seimannya yang lain? Kita akan melakukan penelusuran untuk memperoleh pemahaman yang memadai atas pertanyaan-pertanyaan ini. Dimulai dari tinjauan historis agar kita memperoleh orientasi atas berbagai perkembangan yang ada. Lalu kita akan memasuki beberapa hal penting dan diharapkan bisa menjadi agenda yang dapat ditangani secara sistematis oleh para pemimpin gereja.
Tulisan ini disusun dengan memanfaatkan sebanyak mungkin sumber-sumber dari kalangan Injili sendiri. Hanya beberapa bahan lain yang berasal dari pihak yang tidak pernah mengklaim diri sebagai Injili. Karena gerakan ini muncul dan berkembang di Barat, khususnya Amerika, maka bahan-bahan yang dipergunakan juga berasal dari Amerika. Hal ini sekaligus mengingatkan kita, bahwa perdebatan-perdebatan yang berkembang di seputar persoalan polarisasi sesungguhnya bukanlah pertama-tama terjadi di tempat lain. Dan pada waktunya kita juga harus bisa menentukan sikap untuk tidak terjebak ke dalam polarisasi yang sesungguhnya bukanlah urusan kita.[2]
Tinjauan historis
Kita tidak akan memulai dengan sebuah definisi tentang Evangelikal atau Neo-Evangelikal atau (dalam bahasa Indonesia) Injili. Istilah ini sudah begitu banyak digunakan untuk berbagai maksud, pengertian dan juga kepentingan. Oleh karena itu istilah ini (bersama dengan istilah-istilah lainnya yang berkaitan) akan dibiarkan berbicara sendiri pada waktunya. Dan sebagai kerangka pembicaraan digunakan tinjauan historis, sehingga bagaimana istilah yang sama ini dipahami dan dihayati dalam berbagai kesempatan dan untuk berbagai kepentingan, biarlah menjadi jelas di dalam konteks historisnya.
Judul dari tulisan ini menunjuk kepada satu periode tertentu dalam perkembangan gerakan Injil (Evangelical). Ia muncul pada ‘tahap’ III. Dan sejak saat itu istilah Injili atau Evangelical yang kita kenal sering kali merujuk pada gerakan dan kelompok yang muncul pada tahap III ini. Untuk memperoleh pengertian yang memadai tentang gerakan ini, maka perlulah kita melakukan peninjauan yang agak menyeluruh (secara historis) mulai dari tahap pra-I, untuk mengenali akar-akar dari semangat Injili mula-mula pada masyarakat Amerika, sebelum meninjau perkembangan demi perkembangan, dan juga dampaknya atas berbagai komunitas/gereja Kristen di Amerika sendiri dan tempat-tempat lainnya.
Secara spesifik memang Neo-Evangelical ini lahir dalam konteks yang khusus yaitu di Amerika Serikat. Namun kita juga akan melihat bahwa ada akar-akar bersama yang juga dimiliki oleh berbagai gereja/komunitas Kristen lainnya di berbagai tempat, yang menyebabkan terbangunnya koalisi-koalisi yang melintasi batas wilayah Amerika, bahkan dunia Barat. Kita akan memperhatikan (secara singkat saja) bagaimana gerakan Injili juga berkembang di Eropa, dan juga negara-negara Dunia Ketiga dengan kekhasannya masing-masing – selain sejumlah kesamaan yang merekatkan mereka dengan gerakan yang muncul di Amerika ini. Sehingga gerakan Injili bukan cuma sesuatu yang khas Amerika, melainkan juga memiliki corak universal (dan justru, menurut hemat saya, di sinilah letak kekuatan dan sekaligus kelemahan gerakan ini).
· persoalan-persoalan yang dihadapi à bagaimana cara orang melihatnya serta berbagai cara menghadapinya)
Pra – I:
Dari manakah dimulainya sejarah gerakan Injili ini? Dari Reformasi abad XVI-kah?[3] Atau dari zaman para Rasul?[4] Kalau kita memulai dari peristiwa-peristiwa tersebut (seperti yang sering di-klaim oleh kaum Injili yang sangat bersemangat), maka ada dua soal yang perlu dipertimbangkan: a) dua peristiwa tersebut adalah milik bersama semua tradisi Kristen yang lain; mengklaim bahwa hanya kalangan Injili merupakan pewaris yang sah dan setia adalah cara berpikir yang sempit dan angkuh (inilah cara berpikir sektrarian); b) gerakan kaum Injili sebagaimana yang kita kenal sekarang secara faktual merupakan suatu peristiwa historis yang lahir pada tempat dan waktu yang tertentu, dengan persoalan dan kebutuhan yang juga sangat kongkret bagi komunitas Kristen tertentu. Mengabaikan hal (yang kontekstual) ini menyebabkan kita kehilangan orientasi historis.
Dengan demikian saya akan memulai periode ‘pra-sejarah’ Evangelikalisme di Amerika ini pada suatu permulaan yang spesifik Amerika.[5] Bahkan McGrath menyatakan pada tahap awalnya kaum Injili hampir seluruhnya adalah orang-orang berkulit putih, sebelum gerakan ini mendapatkan bentuk internasionalnya pada tahap perkembangan III.[6]
Dari sejarah Kekristenan di Amerika kita memang menemukan banyak hal yang khas Amerika, yang tidak terdapat dalam tradisi Kekristenan yang lebih tua (y.i. Eropa). Dari Amerika kita mengenal istilah ‘denominasi’, karena konstelasi Kekristenan di Amerika berbeda dengan di Eropa. DI Amerika tidak ada gereja negara atau gereja rakyat seperti halnya di Eropa. Selain ada banyak aliran Kekristenan yang dibawa masuk ke Amerika, juga ada banyak aliran yang baru lahir di benua ini. Posisi mereka terhadap negara dan terhadap satu sama lain kurang lebih seimbang. Memang ada denominasi-denominasi yang besar dan kuat, tetapi tidak dalam posisi seperti gereja-gereja rakyat/negara yang ada di Eropa, terhadap gereja-gereja minoritas yang ada. Secara sederhana dapat dikatakan bahwa Kekristenan di Amerika dalam keperlbagaian denominasi yang ada, sama-sama memiliki visi yang sama, yaitu tentang suatu ‘dunia Kristen’ (Christendom) yang baru, yaitu Amerika. Atau lebih spesifik, suatu dunia Kristen Protestan, yang ingin memperbaiki kegagalan Christendom abad-abad pertengahan yang telah runtuh di Eropa, dan yang telah melahirkan perang-perang agama (di antara sesama Kristen) dan penindasan.
Idealisme seperti ini telah menjadi bagian dari ingatan kolektif yang mendasari pendekatan budaya maupun sosial (selain kerohanian) dalam masyarakat Amerika, dan secara khusus kaum Injili yang akan terbentuk di masa berikutnya.
Kedatangan komunitas-komunitas Kristen ke benua baru ini, membawa warisan kultural dan teologisnya masing-masing. Secara sadar maupun tidak, unsur-unsur ini turut membentuk pola Kekristenan dalam Imperium Protestan Amerika ini. Pada masa awal perkembangannyapun telah terjadi berbagai gerakan di kedua sisi samudra Atlantik. Sehingga berbagai pengaruh (seperti yang akan kita lihat kemudian) mulai dari Pietisme, Puritanisme, Revivalisme, bahkan Reformasi Radikal (yang semuanya terjadi di lingkungan gereja-gereja Protestan di Eropa) menjadi bagian inheren dalam Kekristenan Amerika ini.
I: imperium injili
Sepanjang abad XVIII sampai sebelum perang saudara di Amerika, telah tumbuh optimisme akan kemajuan dan perkembangan Injil dalam masyarakat Amerika. Gerakan Kebangunan Rohani (the Great Awakening) yang pertama (abad XVIII) dan juga yang kedua (awal abad XIX), telah mendekatkan hampir semua denominasi yang ada di Amerika untuk menjadi sesuatu Imperium Injili (Marsden gemar menggunakan istilah the evangelical empire[7]), dengan nilai-nilai Kristen yang dominan mengatur segala sendi kehidupan. Pada tahap ini, gerakan-gerakan sosial kemasyarakatanpun (seperti gerakan antiperbudakan) dipelopori oleh nilai-nilai Injili. Denominasi-denominasi besar melihat dirinya sebagai bagian dalam Imperium ini (Methodis, Baptis, Presbiterian, Kongregasionalis, Disciples of Christ, dll). Sistem pendidikan seluruhnya didominasi oleh nilai-nilai Injili.
Pada masa ini semua orang dianggap sudah dengan sendirinya mengerti dan menaati nilai-nilai moral Kristiani. Meskipun mereka menyadari adanya kepelbagaian denominasi, namun semangat kesatuan sangat kuat, terutama pada abad XIX ketika sedang berlangsung ‘abad pekabaran Injil’ (yang ironisnya berbarengan dengan kolonisasi bangsa-bangsa Barat di Asia dan Afrika). Semua pihak bersama-sama menyokong upaya dan kerjasama bagi perluasan Injil di seluruh dunia.
Pada masa ini juga belum berkembang sikap kristis yang mampu membedakan antara keutamaan Injil dan supremasi kebudayaan Barat (kemajuan teknologi dan kekuasaan kolonial). Umumnya orang-orang Amerika menyamakan begitu saja antara Kekristenan Amerika dengan kebebasan demokratis yang dipraktekkan dalam kehidupan masyarakatnya. Di atas kertas memang bangsa Amerika tidak pernah menyatakan bahwa negaranya berlandaskan suatu agama tertentu, namun nilai-nilai yang dianggap dominan adalah nilai-nilai Protestan atau Injili.
Periode ini sering menjadi acuan bagi tahap-tahap perkembangan yang berikut, sebagai sebuah masa yang manis dan indah. Good old time Gospel
II: a. 1865-1920-an ; b. 1920-an – 1940-an à kemunculan, kejayaan dan keruntuhan evangelikal-fundamentalis
Ada beberapa peristiwa penting yang meruntuhkan American dream. Impian yang mendorong optimisme bangsa Amerika dan the Evangelical empire yang merupakan masa-masa penuh keindahan dan kedamaian telah diguncangkan oleh perkembangan yang terjadi di dalam negeri dan juga dari perkembangan luar yang masuk ke dalam. Bahkan bagi banyak pihak bukan cuma keguncangan, melain juga suatu ancaman keruntuhan bagi Imperium Injili.
Ketika Amerika sedang mengalami masa kejayaan Imperium Injili (abad XVIII-awal abad XIX), pada saat yang sama di Eropa telah berlangsung proses sekularisasi. Pengaruh Eropa ini tidak berhasil menembus Amerika pada awalnya, karena pada masa itu para pemimpin besar Amerika sangat kuat dipengaruhi oleh oleh suasana Injili yang dominan pada segala aspek kehidupan. Denominasi-denominasi juga berhasil memelihara semangat kesatuan di antara mereka berdasarkan semangat Injili yang diyakini dimiliki bersama. Lembaga-lembaga pendidikan umum maupun swasta semuanya memelihara suasana intelektual yang sesuai dengan keyakinan sebagian besar masyarakat Amerika. Keterikatan kultural antara berbagai kelompok etnis dalam masyarakat Amerika juga memberikan kestabilan dalam sebuah masyarakat pluralistik.
Keseimbangan ini terganggu oleh terjadinya Perang Saudara (1861-5) yang mengoyak impian akan adanya suatu Imperium Injili yang akan menjadi lebih besar dan kuat lagi, yang sebelumnya dibayangkan dapat menjadi kota di atas bukit yang sanggup menerangi seluruh dunia. Seusai perang saudara ini, masuklah berbagai hal yang sebelumnya tidak pernah diantisipasi.
Terbitnya Origin of Species (1859) menantang orang-orang terpelajar untuk mengatakan sesuatu sehubungan dengan kisah penciptaan di dalam Kitab Kejadian. Persoalan yang menantang adalah ‘apakah Alkitab dapat dipercaya’.[8] Sejak saat itu penolakan yang keras terhadap teori evolusi dan segala aspek sains yang menggunakan asumsi evolusioner.Lalu juga masuk metode penafsiran Alkitab yang dikenal sebagai ‘studi kritis Alkitab’ (Higher Criticism) dari Jerman. Dengan metode ini historisitas Alkitab dipertanyakan.[9]
Pemiikiran Francis Bacon (1561-1626)[10] dan Scottish common sense realism adalah cara berpikir yang berhasil mempertahankan harmoni dalam pemikiran dan praktek kehidupan masyarakat Amerika sejak kedatangan para the Founding Fathers sebelum Perang Saudara terjadi.[11]
Ditambah lagi dengan kedatangan para imigran secara besar-besaran dari Eropa yang menyebabkan terjadinya perubahan peta dan keseimbangan kependudukan di Amerika. Proses urbanisasi juga berlangsung sangat cepat pada periode sesudah perang ini. Impian tentang sebuah bangsa Kristen (Protestan!) menjadi semakin jauh.[12]
Dunia pendidikan pasca-Perang Saudara juga mengalami perubahan. Sebelumnya di bawah kepemimpinan para Kepala Sekolah yang adalah kaum rohaniwan, hal-hal seperti ilmu pengetahuan moral, bukti-bukti kebenaran Kristen, dan segala sesuatu yang berbau Amerika dan Kristiani sangat diutamakan. Motivasi untuk belajar adalah untuk memuliakan Allah di dalam keajaiban ciptaan dan rencana-Nya. Ketika sekolah-sekolah (colleges) berkembang menjadi universitas dan mengambil model universitas di Eropa, dengan pemisahan dan penajaman berbagai bidang keilmuan yang mandiri, maka mulailah masing-masing ilmu menerapkan standar profesionalnya masing-masing tanpa terlalu dibebani kewajiban menyesuaikan diri dengan penafsiran Alkitab tertentu.[13]
Semua perubahan ini menimbulkan perasaan terancam dalam diri banyak orang.[14] Tidak berlebihan kalau Marsden (1991) mengatakan bahwa ada unsur kemarahan yang kuat di sini. Dan dari kemarahan tersebut muncullah berbagai reaksi.[15]
Umumnya ada dua reaksi besar dari Imperium Injili ini.[16] Sejarawan Amerika, Sydney Ahlstrom (secara agak berlebihan) menyebutnya sebagai ‘the most fundamental controversy to wrack the churches since the Reformation’. Kita akan memberi perhatian pada dua reaksi ini selama periode 1865-1917, mulai dengan liberalisme atau modernisme,[17] baru disusul dengan reaksi dari kaum konservatif atau fundamentalis.
Paling sedikit ada empat tantangan yang harus dijawab oleh Kekristenan pada masa ini: Darwinisme dan metode penafsiran kritis yang menantang kewibawaan Alkitab; pemikiran-pemikiran historis dan sosiologis baru serta psikologi dari Freud yang mengubah cara berpikir dan menimbang hampir segala sesuatu; perubahan sosial yang cepat; dan proses sekulariasi, teristimewa dalam hal ilmu pengetahuan dan pendidikan tinggi. Semua perkembangan ini tidak lagi menyediakan jawaban-jawaban yang serba pasti dan mudah atas persoalan-persoalan yang ada.[18] Dunia pendidikan tinggi pada umumnya berada dalam tradisi modernisme ini. Dan para pendeta muda yang dihasilkan pada periode ini merangkul perkembangan modernisme. Ada tiga pendekatan yang digunakannya untuk mempertahankan iman di tengah perkembangan dunia modern.[19]
a) penekanan pada proses sejarah: Allah yang menyatakan diri di dalam sejarah dan telah berinkarnasi di dalam perkembangan kemanusiaan. Kristus tetap menjadi pusat ketika terjadi pertemuan antara yang surgawi dengan yang historis. Alkitab dipahami sebagai catatan dari pengalaman keagaman orang-orang percaya di masa yang lampau. Alkitab bukanlah sebuah ensiklopedia dogmatis, melainkan sebuah model kuno tentang pengalaman keagamaan. Kita tidak perlu mengikutinya secara membuta, tetapi kita dapat mempelajari prinsip-prinsip dasar yang ada di dalamnya untuk dikembangkan sebagai pengetahuan bagi kemajuan peradaban dan juga untuk memahami pekerjaan Allah di tengah-tengah sejarah manusia. Kemajuan kemanusiaan sering disejajarkan dengan kemajuan Kerajaan Allah (kelanjutan dari perwujudan Allah di dalam Kristus di tengah dunia dan sejarah).[20]
b) penekanan pada etika: dengan menekankan persoalan etika mau ditegaskan bahwa kunci terpenting dalam memahami Kekristenan bukanlah pada doktrin/ajaran, melainkan pada kehidupan dan perilaku. Etika dapat menyelamatkan Kekristenan dari berbagai gugatan berbagai perkembangan pemikiran yang muncul setelah Pencerahan. Etika juga adalah inti dari pengajaran Yesus. Sekaligus hal ini merupakan kritik atas Calvinisme dan teologi tradisional yang sangat menekankan unsur-unsur juridis dalam hubungan Allah dengan manusia.[21]
c) pentingnya perasaan keagamaan: kita dapat menangkap gema dari teologi Friedrich Schleiermacher (1768-1834) di sini. Sebagaimana yang juga ditekankan oleh Schleiermacher, dasar dari agama adalah perasaan (bukan dalam pengertian aspek-aspek dari emosi: senang, sedih, dlsb), yang berarti adanya rasa ketergantungan mutlak (the sense of absolute dependence) kepada Allah. Hal ini merupakan suatu kritik terhadap agama yang bersandar pada akal budi dan dogma (rumusan yang dihasilkan oleh akal budi), juga terhadap agama yang menafsirkan Alkitab secara literal. Metode penafsiran kritis dan juga ilmu pengetahuan dengan demikian, tidak dapat menyentuh intuisi dari hati yang tidak dapat diukur oleh akal budi.[22]
Reaksi dari kalangan konservatif bukanlah pertama-tama terhadap perkembangan yang sedang terjadi.[23] Bagi mereka pendekatan yang dilakukan oleh kalangan modernis adalah penghianatan terhadap segala sesuatu yang selama ini telah dijunjung tinggi. Segala sikap akomodatif dan keterbukaan kalangan modernis dianggap sama berbahayanya dengan berbagai kemerosotan yang sedang berlangsung di dalam masyarakat. Pada masa 1870-80 terjadi pertikaian yang hebat di seputar teori evolusi Darwin.[24] Kaum moderat tidak terlalu melihat teori ini sebagai ancaman bagi iman, seperti yang dikatakan oleh J. Fiske: ‘Evolution is God’s way of doing things’. Kaum konservatif juga berkeberatan dengan teori ini karena tidak cocok dengan kisah penciptaan manusia yang ada dalam kitab Kejadian.[25] Namun pendapat kaum konservatif pada akhir abad XIX ini masih sedemikian beragam terhadap teori ini, maka pandangan mengenai Darwinisme masih belum menjadi sebuah test of the faith. Yang jauh lebih serius adalah soal kebenaran Alkitab.
Metode penelitian dan penafsiran Alkitab yang kritis telah memperlihatkan bahwa adanya kesalahan-kesalahan yang serius dalam Alkitab. Hal ini jelas sangat menggelisahkan orang-orang Kristen pada masa itu. Dari sebuah seminari terkenal dan berwibawa pada masa itu (Princeton Theological Seminary), kita mendengar pembelaan dan sekaligus akan memunculkan sebuah doktrin baru. Teks yang diilhami secara asli oleh Roh Kudus ‘sepenuhnya tanpa salah’. Hal ini kemudian hari dikenal sebagai doktrin ‘inerrancy’.[26] Dari pihak konservatif kita menemukan ada tiga sumbangan yang diberikan dalam rangka menanggapi perkembangan yang terjadi.[27]
a) premillennialisme dispensasional merupakan hasil dari upaya menggali nubuat-nubuat dalam Alkitab yang sangat berkembang pada masa pasca Perang Saudara. Pada abad XVIII dan awal abad XIX di Amerika, dengan warisan Puritanisme yang berorientasi sosial-kemasyarakatan, ada penghayatan postmillennialisme, yang mengajarkan bahwa Kerajaan Kristus akan terus bertumbuh dan berkembang (khususnya di Amerika melalui berbagai upaya pembangunan masyarakatan, dan umumnya di seluruh dunia melalui upaya-upaya pekabaran Injil) secara spiritual maupun moral, bersama dengan perkembangan zaman ini. Gagasan ini runtuh oleh karena kenyataan pahit Perang Saudara dan berbagai kegoncangan yang terjadi setelah itu. Muncullah ajaran premillenialist dispensasional yang mengajarkan bahwa gereja dan masyarakat – bukannya berkembang maju – sedang mengalami kemerosotan dan menuju kehancuran dan bahwa Kerajaan Kristus baru akan kelihatan setelah Kristus secara pribadi kembali berkuasa di Yerusalem.[28]
b) Gerakan Kesucian menimba sumbernya dari spiritualitas John Wesley, namun pengaruhnya meluas di luar kalangan Metodis. Gerakan inipun merupakan kritik terhadap sikap dan pendekatan kaum modern, dengan penekanan pada persoalan moral. Ketika kaum modernis menekankan masalah etika, ada keyakinan bahwa pada dasarnya ada benih-benih kebaikan dalam diri manusia. Kekristanan dapat menumbuhkan dan mengembangkan potensi ini agar menghasilkan buah-buah yang baik. Oleh karena itu dibutuhkan proses pertumbuhan yang bertahap dan pendidikan Kristiani untuk mencapai hal tersebut. Di kalangan gerakan kesucian, Roh Kudus justru dilihat sebagai pihak yang dapat mengatasi hal-hal yang alamiah-manusiawi. Bukan pertumbuhan bertahap yang dibutuhkan, melainkan pengalaman pertobatan yang tiba-tiba dan dramatis – warisan teologis revivalisme – dan juga ‘berkat kedua’ yang adalah karya Roh Kudus yang membebaskan seseorang dari kuasa dosa.[29]
c) Pentakostalisme berkembang dari dalam kelompok-kelompok kesucian, dan lebih radikal lagi mengesampingkan urusan sosial. Dalam hal tertentu gerakan ini menekankan unsur perasaan, namun dalam bentuk yang berbeda dengan penekanan dari kalangan modern. Kalangan Pentakostal memberikan penekanan pada yang supra-natural pada titik di mana kaum modern/liberal menekankan kehadiran unsur-unsur ilahi pada yang alamiah (natural). Gerakan Pentakosta sangat menekankan tanda-tanda yang sangat jelas dari kekuatan Roh Kudus dalam bentuk kesembuhan ilahi dan berbahasa lidah.
Tiga gerakan ini sejak awal memiliki kesamaan untuk melawan pendekatan modern dengan sangat menekankan campur tangan yang dramatis dari kekuatan supra-natural. Di kalangan gerakan Injili unsur-unsur dari ketiga gerakan ini tercampur dengan derajat yang berbeda-beda pada berbagai kelompok dan tokoh-tokohnya. Pusat dari gerakan ‘pembaruan’ ini adalah dorongan untuk mempertahankan dan membela kebenaran Alkitabiah yang sederhana. Ketika imanensi Allah sedemikian kuat diyakini oleh orang-orang terpelajar, dispensasionalis berusaha mempertahankan transendensi Allah yang menguasai jalannya sejarah. Ketika kepercayaan pada ilmu pengetahuan yang bersifat mekanistik dalam kebudayaan modern, pentakostalisme menekankan kemampuan Allah untuk menerobos masuk ke dalam kehidupan orang-orang biasa. Ketika kaum terpelajar mempromosikan penyelesaian masalah-masalah secara pragmatis, demokratis dan menurut ilmu-ilmu sosial lainnya, maka gerakan kesucian menawarkan Roh Kudus sebagai jawaban atas segala sesuatu.[30]
Dengan mulai terjadinya polarisasi ini, maka perlahan-lahan terbentuklah pengelompokan-pengelompokan di antara dua kelompok yang berhadapan ini. Kelompok konservatif kadang-kadang disebut dan menyebut diri sebagai fundamental.[31]
J.G. Machen (1881-1937) dari PTS berperan penting dalam memperkuat pengaruh kelompok konservatif di dalam diri gereja Presbyterian.[32] The Five-Point Deliverance, 1910 merupakan salah satu tonggak kemenangan kelompok konservatif dalam tubh gereja Presbyeterian untuk menahan pengaruh historis-kritis di dalam gerejanya. Dalam Christianity and Liberalism (1923) Machen menyatakan bahwa teologi liberal pada dasarnya adalah agama yang baru.[33] Dan ia juga menyerukan pemisahan (separatism) di antara kedua kelompok ini. Ketika gerejanya dan juga PTS tidak dapat mengikuti perjuangan (crusade) yang dilancarkannya ini, maka ia keluar dan mendirikan sendiri organisasinya: Westminster Theological Seminary, 1929.
Semangat berperang di kalangan kelompok konservatif yang ekstreem ini sejajar dengan semangat yang berkembang di Amerika pasca-Perang Dunia I, yang memperlihatkan kemenangan Amerika. Kekristenan dan Patriotisme menjadi istilah yang begitu berdekatan. Menjadi Kristen adalah menjadi patriot bangsa, yang membela dan mempertahankan nilai-nilai Amerika. Namun bagi kalangan yang lebih moderat baik di kalangan konservatif maupun modern, perang sama sulitnya bagi mereka dari sudut moral. Sementara itu secara popular dan simplistik telah berkembang anggapan bahwa dalam perang ini sedang dipertaruhkan peradaban Kristen melawan bangsa (Jerman) yang haus darah dan barbaristik. Hal ini antara lain menumbuhkan kebencian segala sesuatu yang berbau Jerman, dan memperkuat kohesi masyarakat Amerika.
Masa sesudah PD I juga mempercepat meluaskan sekularisasi di Amerika. Revolusi moral, kebebasan berekspresi, yang dimanfaatkan oleh pemasaran modern yang pada akhirnya mengembangkan budaya popular, yang kemudian meruntuhkan tembok-tembok standar moral lama, yang masih berusaha dibela oleh gereja.
Kalangan liberal melihat perkembangan seperti ini dengan cara yang berbeda dengan rekan-rekannya dari kalangan konservatif. Bagi mereka runtuhnya tradisi yang lama adalah kesempatan untuk membangun suatu konsensus Kekristenan liberal yang baru. Kaum konservatif, sekali lagi, bereaksi sangat negatif dengan perkembangan ini dan juga terhadap kaum liberal. Bila sebelumnya pertentangan di antara kalangan liberal dengan konservatif tidak mengambil bentuk-bentuk yang keras dan tajam, dan masih bisa dilakukan dengan santun, pasca PD I terjadilah perkembangan yang sama sekali berbeda.
Terbentuklah koalisi-koalisi fundamentalis untuk menyerang dan menyingkirkan pengaruh liberal di dalam denominasi masing-masing. The Fundamentals: A Testimony ot the Truth (1910-15) merupakan satu tonggak penting dalam perjuangan ini.[34] Pasca PD I W.B. Riley (1861-1947) dan R.A. Torrey (1865-1928) mendirikan World’s Christian Fundamentals Association, 1919, yang memberi penekanan pada upaya legislasi anti-evolusi. Dengan demikian gerakan ini (WCFA disusul oleh organisasi dengan semangat dan tujuan yang sama) mendapat perhatian luas.
Nama Fundamentalis diberikan oleh media massa pada tahun 1920.[35] Sejak saat itu perseteruan yang terjadi di antara kaum fundamentalis dan modernis mulai mendapatkan lebih banyak perhatian dari masyarakat umum. Koalisi kaum fundamentalis cukup luas, karena mengikutsertakan kelompok-kelompok konservatif dari berbagai denominasi. Perseteruan yang keras lebih banyak terjadi di daerah utara, sementara di selatan hampir seluruh denominasi memiliki kecenderungan konseratif (antara lain sebagai reaksi dari gaya hidup di selatan melawan budaya Yankee dari utara).
Dua kasus yang terkenal dalam rangkaian perseteruan ini adalah kasus H. E. Fosdick (1878-1969) dan kasus J.T. Scopes. Yang pertama adalah seorang pendeta gereja Baptis yang liberal,[36] yang kedua adalah seorang guru biologi.[37]
Kasus yang kedua dianggap paling monumental, karena menandai sebuh era yang baru dari perkembangan fundamentalisme. Peran kaum konservatif di denominasi-denomasi besar telah tergeser dengan pencitraan yang buruk dari fundamentalisme, dan kecenderungan gereja-gereja untuk bersifat inklusif dan moderat. Sepanjang 1925-41 merupakan masa tersingkirnya kaum fundamentalis dari dunia publik yang lebih luas. Namun bukan berarti pengaruh mereka meredup dan jumlahnya menyusut, sebab mereka tetap terus mengalami perkembangan dan pertumbuhan.
Noll menyatakan bahwa periode 1925-41 merupakan the age of fundamentalism. Dengan kematian Bryan – yang memiliki visi yang disemangati oleh sikap keagamaannya – dan kekalahan telak dalam dua kasus tadi, maka telah terjadi pemisahan yang tajam antara gerakan ini dengan Kekristenan secara umum. Pemisahan ini tidak dengan sendiri sesuatu yang buruk, sebab ternyata dalam periode ini kaum fundamentalis berhasil mempertegas visi dan identitasnya. Dan pada waktunya mereka akan muncul kembali ke hadapan publik dengan wajah yang baru. Ellingsen mencatat bahwa kemunduran ini malah membawa sesuatu yang positif bagi kaum Fundamentalis, terutama untuk semakin meyakinkan diri mereka bahwa keyakinan dan visi mereka memang benar. Mereka sangat siap ketika terjadi depresi ekonomis pada 1930-an dan Perang Dunia II pada dekade berikutnya. Pandangan dunianya yang pesimistik (dari perspektif premillennialisme) mendapatkan penguatan dengan peristiwa-peristiwa tersebut.[38]
Ellingsen juga mencatat bahwa di samping premillennialisme, ada juga unsur revivalisme dan evangelisme dalam diri gerakan ini, yang terus bergerak. Dan hasilnya adalah pertumbuhan dari segi jumlah pengikutnya. Baik melalui menjaring para petobat baru, maupun melalui koalisi fundamentalis yang diperluas dan diperkuat. Yang sangat nyata adalah pada periode sebelum PD II, kelompok-kelompok gereja etnik (kulit hitam), Kesucian dan Pentakosta dan bagian tertentu dari gereja-gereja arus utama di bagian selatan telah berada dalam pengaruh fundamentalis. Marsden menyatakan kendati pengaruh mereka secara nasional surut, namun mereka berhasil memperkuat basis-basis lokal mereka, sehingga upayanya bukan lagi mempengaruhi dan merebut puncak-puncak kekuasaan, melainkan menjadi kekuatan dominan pada jemaat-jemaat setempat dan organisasi-organisasi lokal yang kehadirannya dapat langsung dirasakan oleh lingkungan yang dekat.
Perkembangan pada periode ini juga antara lain dipengaruhi oleh pemanfaatan media untuk karya penginjilan. Di samping itu juga bermunculan badan-badan independen yang bergerak di luar dan tanpa campur tangan gereja, yang dikenal sebagai para-church. Tidak kalah pentingnya muncul juga banyak sekolah-sekolah dan seminari yang mengusung panji-panji fundamentalisme untuk memantapkan diri berhadapan dengan seminari-seminari mapan yang sebagian besar telah dikuasai oleh kaum liberal.
Warisan Puritanisme melahirkan, pada periode ini, sikap-sikap nasionalistik dan patriotik, yaitu antikomunisme. Pasca 1925, sampai dengan selama dan pada akhir PD II, dan memuncak pada tahun 1950-an, komunisme menjadi musuh yang paling ditakuti dan dirasakan mengancam keberadaan mereka.
Semua perkembangan ini mempersiapkan mereka untuk muncul kembali pada dasawarsa ketiga abad XX. Sampai dengan periode ini baik kaum fundamentalis maupun kaum modernis sama-sama mengklaim diri sebagai orang Injili. Hal ini menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 1930-an belum ada pengertian ‘Injili’ sebagaimana yang kita kenal dan pergunakan pada saat ini. Pertarungan di antara dua bagian dalam tubuh ‘Injili Amerika’ ini memaksa orang untuk membuat pilihan-pilihan.[39] Kaum fundamentalis yang militan, seperti dalam kasus Machen, akan memilih keluar dan membentuk sendiri organisasinya, bila gagal menguasai pucuk pimpinan suatu denominasi. Sementara kaum fundamentalis yang lain akan memilih untuk membentuk organisasi-organisasi yang dapat mewadahi aspirasi mereka, sambil tetap mempertahankan hubungan baik, bahkan masih menjadi anggota penuh, dalam denominasinya, untuk bisa mempengaruhi dari dalam dan melalui kegiatan dan organisasi trans-denominasi (parachurch), yang biasanya bergerak dalam bidang-bidang sosial-kemasyarakatan-pendidikan-penginjilan. Dari kelompok yang ingin mempertahankan hubungan baik inilah kita menemukan generasi yang baru, yang dikenal sebagai new-evangelical, atau sering disingkat evangelical saja, pada tahun 1940-an.
III: 1940-an – 1970-an à munculnya kaum injili (evangelical) dan ketegangan dengan kaum fundamentalis[40]
Bersama dengan berjalannya waktu di dalam tubuh fundamentalis muncul kecenderungan yang semakin kuat untuk menghilangkan citra yang buruk (sejak 1925, Scope Trail). Dan di dalam koalisi ini juga telah tumbuh suatu generasi yang baru, yang telah mengalami mobilitas sosial, yang memperoleh pendidikan yang jauh lebih baik daripada generasi sebelumnya, serta yang lebih mampu dan percaya diri berdialog dengan perkembangan dunia modern.[41] Seperti yang dikatakan oleh banyak orang di kemudian hari kelompok ini berusaha untuk menjadi satu kekuatan baru yang berdiri di tengah, di antara kaum fundamentalist dan liberal. Dan dikatakan bahwa generasi yang baru ini mengambil hal-hal terbaik dari kedua belah pihak yang bertikai. Kesetiaan kepada hal-hal yang fundamental dan kemampuan intelektual serta sikap keterbukaan yang kritis.[42]
Kecenderungan separatis yang sangat kuat pada kelompok fundamentalis militan tidak cocok dengan semangat Injili yang dipahami oleh kalangan neo-evangelical ini. Harold Ockenga (1905-85), yang dianggap sebagai tokoh penting yang mengorganisasikan gerakan baru ini, mengatkan bahwa pendekatannya adalah ‘infiltrate rather than separate’.
Hutcheson mencatat bahwa perkembanganlah yang membuat terjadinya kemajuan di dalam kalangan fundamentalis-injili ini. Organisasi-organisasi mereka berkembang semakin baik, seminari dan juga sekolah-sekolah Alkitabnya perlu mendapat akreditasi (pengakuan). Semua ini pada akhirnya mengurangi kecenderungan separatis, anti-intelektual dan fundamentalisme-dispensasionalis-nya. Evangelikalisme yang muncul pada saat ini merupakan suatu gerakan kesadaran baru yang berkembang terus. Identitas gerakan yang baru ini dapat dilihat dari beberapa hal. Lints menyebut ada tiga hal penting: Ketokohan Billy Graham, sebagai representasi dari evangelicalism Amerika, terutama sejak 1940-an, NAE dan Christianity Today, yang terbit sejak 1956, dengan editor pertamanya Carl F.H. Henry (…), yang dibuat berdasarkan model Christian Century (namun yang kemudian oplahnya melampaui CC sendiri).[43]
H.J. Ockenga dkk membentuk National Association of Evangelicals (NAE), 1942. Salah satu ambisi dari organisasi yang merupakan koalisi dari denominasi-denominasi, organisasi-organisasi non-gereja (para church) dan lembaga-lembaga pendidikan, adalah berdiri di tengah antara American Council of Christian Churches (ACCC), 1941, di sebelah kanan dan National Council of Churches (kini Federal Council of Churches), 1940, di sebelah kiri. Meski telah ditekadkan seperti ini oleh Ockenga dkk, namun tidak selalu sepenuhnya jelas batas-batas antara kaum evangelikal dan fundamentalis.[44] Kalau kita boleh mencoba merumuskan secara sederhana unsur pengikat dari koalisi evangelicalism, maka kita juga harus berhadapan dengan berbagai rumusan yang berbeda-beda.[45] Betapapun berbedanya, namun bagi publik yang paling dapat mewakili pandangan umum (dan juga segala hal yang terbaik dari gerakan ini) adalah kaum neo-evangelical.
Keterbukaan kalangan neo-evangelical, antara lain terlihat dari kebebasan para anggota NAE untuk juga menjadi anggota NCC/FCC, sementara ACCC melarang dengan tegas hubungan dengan NCC/FCC.[46] Bahkan Ockenga sendiri adalah seorang pendeta PCUSA. Dalam konstitusinya NAE tidak menekankan secara spesifik doktrin inerrancy maupun premillennialisme. Hal ini bukan kemudian berarti Ockenga dan rekan-rekannya sama sekali bukan fundamentalis lagi. Oleh karena itu penting untuk dicatat bahwa kelompok fundamentalis yang merintis NAE ini umumnya berasal dari tradisi Reformed/Calvinis. Umumnya dari kalangan gereja-gereja Presbyterian dan Baptist. Dan sampai dengan hari inipun peran dari kalangan fundamentalis/injili yang berasal dari tradisi Calvinis cukup dominan dalam berbagai koalisi Injili yang lebih moderat.
Perpisahan dengan kalangan fundamentalis radikal tidak terhindarkan oleh karena kalangan neo-evangelical lebih memilih strategi penyusupan (infiltrasi) dibanding pemisahan diri (separatis). E.J. Carnell (1919-67), salah satu tokoh neo-evangelical yang paling moderat (dan pernah memegang jabatan sebagai rektor dari pusat pendidikan teologi neo-evangelical: Fuller Theological Seminary, yang didirikan dan dikendalikan oleh hampir semua tokoh neo-evangelical), menyatakan bahwa gerakan baru ini harus ditandai dengan tolerasi dan pengampunan terhadap pandangan-pandangan yang berbeda dengan mereka. Berbeda dengan gerakan sebelumnya, yang cenderung statis, gerakan baru ini sedemikian dinamis (apalagi di kalangan akademisi FTS), sehingga tidak mudah untuk mendefinisikan apa itu neo-evangelical. Secara umum ciri-ciri yang dimilikinya masih sama dengan old-fundamentalism, yaitu tidak adanya pusat otoritas gerejawi, sebagai sebuah gerakan interdenominasi yang luwes, saling berhubungan dan bekerja sama dalam berbagai lembaga pelayanan (para church) dan lembaga-lembaga pendidikan teologi dan sekolah Alkitab. Hal yang baru adalah kaum neo-evangelical lebih terbuka dan mengupayakan gerakan ekumenis (bukan di kalangan konservatif saja, melainkan juga kepada dan bersama gereja-gereja arus utama).[47]
Banyak orang yang optimis dengan neo-evangelical di awal perkembangannya. Keterbukaan intelektualnya, kepedulian sosialnya dan semangat perdamaiannya, seolah-olah mereka akan mengakhiri masa kegelapan yang terjadi pada saat perseteruan kalangan fundamentalis dan modernis beberapa dekade sebelumnya.
Lembaga pelayanan siswa/mahasiswa jelas memiliki fungsi dan peran yang strategis dalam memberikan pengaruh gerakan ini. McGrath memberikan kesaksiannya tentang bagaimana dirinya sebagai orang muda-terpelajar (di Inggris) bersentuhan dan tertarik kepada neo-evangelical dan kemudian menyatakan dirinya sebagai seorang Injili. Ia mengklaim bahwa ‘evangelicalism possesses the ability to bring individuals to faith from a secular culture’. Keresahan dalam proses pencarian identitas orang-orang muda terpelajar terjawab oleh tawaran yang diberikan oleh gerakan ini. Namun McGrath juga mengkritik gerakan ini, karena ‘… many students begin their ministries as evangelicals, yet end up – often after a period of many years – committed to a form of Catholicism . . . evangelicalism fails to take the pressures and realities of Christian living in the modern period seriously enough to devise spiritual strategies to enable new and struggling Christians to cope with them.’[48]
Hutcheson melaporkan perkembangan lembaga-lembaga ini di Amerika dan dampaknya bagi gereja-gereja arus utama.[49] Ia melihat adanya pergeseran peran gereja selama periode 1960-an, yang menjadikan gereja sangat aktif dengan isu-isu perubahan sosial dan peran gereja di tengah masyarakat. Sehingga kesempatan untuk mendampingi dan menjawab kehausan spiritual anak-anak muda direbut oleh lembaga-lembaga interdenominasi tersebut. Akibatnya muncul suatu generasi di dalam gereja-gereja arus utama yang orientasinya sangat kuat dipengaruhi oleh lembaga-lembaga neo-evangelical tersebut ketimbang tradisi gerejanya sendiri.[50] Di awal 1980-an, Hutcheson juga menemukan terjadinya kesadaran baru, dari generasi yang dibesarkan dalam budaya interdenominasi ini, yaitu untuk kembali mempelajari akar-akar keyakinan denominasinya sendiri.
Memperhatikan dan menganalisis lembaga-lembaga interdenominasional dari neo-evangelical ini amat menarik. Namun karena keterbatasan yang ada kita tidak dapat melakukannya pada saat ini. Kita akan memberi perhatian pada sebuah lembaga yang penting di dalam perkembangan neo-evangelical, yaitu seminari. Secara khusus FTS di Pasadena, California.
Tahun 1947 Carl Henry menulis Uneasy Conscience of Modern Fundamentalism. Tulisan ini antara lain mewakili pandangan umum kaum Injili yang merasa malu dengan anti-intelektualisme kaum fundamentalis, terutama yang berkaitan dengan pandangan dispensasionalismenya. Tidak henti-hentinya kaum fundamentalis mempromosikan pandangan-pandangannya melalui berbagai sekolah Alkitab dan program-program popularnya.
Pada tahun yang sama dibukalah Fuller Theological Seminary, yang dimaksudkan untuk menjadi pusat intelektual Injili yang baru, dengan bobot keilmuan (teologi) yang tidak kalah dengan seminari-seminari dari kalangan modernis-liberal. Meskipun para teolog besar yang bergabung di seminari ini tidak lagi menekankan ajaran dispensasionalisme, namun mereka sama sekali belum memutuskan hubungan dengan kaum injili fundamentalis.
Perpisahan tersebut terjadi ketika William (Billy) F. Graham dalam kampanye penginjilannya di New York City, pada tahun 1957, mengikut sertakan sebanyak mungkin denominasi yang ada dalam semangat inklusif. Hal ini ditentang dengan keras oleh kaum fundamentalis separatis. Bagi kaum fundamentalis ini, sikap inklusif Graham menunjukkan sebuah penolakan atas komitmen separatis (= menghindari persekutuan dengan mereka yang belum BA ‘born again’). Peristiwa ini menjadi momentum pemisahan, dan juga penyebutan bagi kedua kelompok yang ada dalam tubuh Injili ini. Ockenga pada tahun yang sama menyebut bahwa gerakan baru ini bernama the New Evangelicalism. Dengan demikian ia berbeda dengan tiga gerakan yang lain: neo-ortodoksi, modernisme dan fundamentalisme. Perbedaannya dengan fundamentalisme terletak pada perhatiannya untuk menerapkan ajaran-ajaran Alkitab pada masyarakat luas, dan bukan hanya bagi pribadi.
Pada tahun 1950-an, Billy Graham (yang menjadi salah satu lambang dari neo-evangelical ini, di samping NAE, FTS dan Christianity Today) telah mendapat status sosial yang istimewa, melalui kedekatannya dengan para Presiden Amerika. Bahkan sampai berpuluh tahun kemudian, ia masih menjalin hubungan baik dengan para Presiden Amerika.
Meskipun setelah 1950-an kaum neo-evangelical telah meninggalkan banyak pendekatan dan pemahaman yang dianut oleh kaum fundamentalis, namun mereka tidak membuang hal-hal yang diyakini sebagai dasar (fundamental). Hanya saja cara-cara yang digunakan oleh kaum neo-evangelical lebih dapat diterima oleh publik yang lebih luas, dibandingkan dengan pendekatan separatis kaum fundamentalis lama.[51]
IV: 1970-an à munculnya kaum injili progressive / kiri
Memasuki tahun 1970-an baik kelompok fundamentalis lama maupun neo-evangelical telah mengalami perkembangan masing-masing. Kedudukan kaum Injili menjadi semakin mapan dan terterima di masyarakat, apalagi setelah ‘Mr. Evangelical’ Jimmy Carter memasuki gedung putih. Lembaga-lembaga neo-evangelical, terutama organisasi para church (penginjilan dan pelayanan kaum muda), serta lembaga pendidikannya semakin mapan.
Pertikaian tajam terus terjadi di dalam tubuh fundamentalis-injili. Hal ini terjadi oleh karena pendekatan yang terhadap Alkitab. Dua kasus yang menarik sehubungan dengan ini adalah percakapan di kalangan kaum fundamentalis-injili mengenai creation science dan pertikaian tentang Alkitab antara Harold Lindsel (redaktur CT, sebelumnya dosen di FTS) dengan sejumlah rekannya di FTS mengenai Alkitab.
Doktrin Creationist yang sudah sejak lama dikenal di kalangan kaum fundamentalis menjadi creation science.[52] Gerakan creationist selalu mengumandangkan bahwa evolusi biologis bertentangan dengan penciptaan, dan karena itu berlawanan dengan keyakinan Kekristenan. Bukan hanya pada tahun 1920-an ada upaya untuk membuat UU, tahun 1981 upaya serupa berulang lagi, ketika ada tuntutan pada dua negara bagian untuk memperlakukan creation science sejajar dengan evolution science yang diajarkan di sekolah-sekolah. Kita akan memperhatikan soal doktrin dan asumsinya, bukan soal science-nya (biarlah hal itu menjadi porsi para ahli ilmu alam)
Marsden melihat bahwa di balik doktrin ini terdapat dua doktrin yang memang sangat dominan dalam kalangan fundamentalis, yaitu doktrin inerrancy Alkitab dan dispensasionalisme. Institute for Creation Research di San Diego, berkait erat dengan visi Henry Morris, yang sangat kuat dipengaruhi oleh kedua doktrin ini. Pendekatan literalistik terhadap Alkitab dan wawasan dispensasionalisme terlihat jelas dalam The Revelation Record: A Devotional Commentary of the Prophetic Book on the End Times, 1983. Wawasan seperti ini merupakan kelanjutan dari G. McCready Price dan Ellen G. White (gereja Advent Hari Ketujuh).[53]
Noll melihat hal ini sebagai salah satu skandal yang dilakukan oleh gerakan Injili secara umum (dan secara khusus kaum fundamentalis). Ia mulai pemaparannya dengan menyatakan bahwa creationisme bukanlah pandangan kaum fundamentalis awal abad XX, bukan pula pandangan kaum Protestan konservatif pada abad XIX. Ia menunjuk pada era sebelum 1930-an (J. Orr dan B.B. Warfield yang menyusun The Fundamentals, 1910-15; pandangan Bryan dalam Scope’s Trial, 1925), tidak memahami ‘hari’ sebagai 1 x 24 jam.
Creationisme modern muncul dari tulisan E.G. White, yang ingin memberikan dasar (Kristen, khususnya alirannya sendiri) untuk mempelajari sejarah bumi. Karya G.McCready Price (anggota gereja Advent Hari Ketujuh, pengikut E.G. White), The New Geology, 1923 menggunakan pendekatan yang sederhana dan literal dari dalam Alkitab (kisah Air Bah) untuk menghitung waktu penciptaan. Geologi Baru ini tidak pernah diperhitungkan di kalangan para ilmuwan geologi yang tulen.
Pada 1950-an, J.C. Whitcomb (Grace Theological Seminary) dan H.M. Morris (dari gereja Southern Baptist) mengembangkan creationisme ini, dan merasa mendapat dukungan dari pemikiran Price. Kedua orang ini merasa terganggu dengan karya Bernard Ramm (seorang teolog Injili dari gereja Baptis), yang mendukung pendekatan yang digunakan oleh American Scientific Affiliation (didirikan 1941 oleh para ilmuwan injili konservatif), yang juga sepaham untuk melihat 1 hari bukan dalam arti 24 jam, melainkan sebagai suatu era (day-age atau gap theories). Mereka juga tidak melihat perlunya dilakukan harmonisasi data (dan teori) ilmu pengetahuan dengan apa yang dinyatakan di dalam Alkitab. Ramm dengan tajam menunjuk kesalahan kaum hyperorthodox yang ingin mengharmonisasikan Alkitab dengan data yang ada, dalam The Christian View of Science and Scripture, 1954. Morris dan Rimmer mengeluarkan The Genesis Flood, 1961. Yang ternyata meledak di pasaran, dan dengan demikian mempopulerkan pandangan creationisme (bahkan juga diterjemahkan ke dalam bahasa Turki, untuk digunakan dalam pendidikan Islami). Tak mengherankan kaum creationist menjadi lebih bersemangat untuk menjadikan doktrin creationist ini juga sebagai creationist science. [54]
Noll mencatat adanya dua alasan kemunculan creationist science. Pertama, karena Morris dan Whitcomb berhasil menyampaikan secara sederhana ajaran Alkitab, di tengah-tengah ketidakmengertian begitu banyak orang. Tulisan mereka berdua berhasil meyakinkan orang bahwa Alkitab masih masuk akal, di tengah perkembangan zaman dan ilmu pengetahuan. Kedua, adanya kemuakan tertentu di tengah masyarakat Amerika terhadap ambisi negara dan keangkuhan para pakar ilmu pengetahuan. Sejak akhir 1950-an, pemerintah Amerika sangat ambisius mengembangkan sekolah, kurikulum, perguruan tinggi, dan menciptakan kelompok elit ilmuwan. Terobosan dari Whitcomb dan Morris yang dalam ukuran standar keilmuwan itu tidak berkompeten, justru menjadi anti-tesis dari trend yang terjadi di Amerika ini, untuk memberikan penjelasan yang lain tentang How The World Is.
Literalisme adalah suatu yang inheren dalam tradisi konservatif Injili, bahkan sejak Imperium Injili. Masuknya kreasionisme dan dispensasionalis premillennialisme memperkuat kecenderungan yang sudah ada itu. Kedua doktrin ini berkaitan dengan kenyataan bahwa pembacaan secara literal atas Kej 1-3 dengan pembacaan literal atas Wahyu 20 dapat berjalan seiring.[55]
Kendati hal ini bisa dipahami dengan melihat agenda kaum fundamentalis, yang melihat segala sesuatu dari sudut doktrin (meski jarang disadari dan diakui bahwa doktrin inerrancy dan pembacaan literal adalah membaca Alkitab dengan sebuah pra-paham, untuk melahirkan doktrin-doktrin lainnya), dan menggunakan baik Alkitab maupun data-data ilmiah dan empiris untuk diharmonisasikan dengan pra-pahamnya sendiri. Namun Noll mengecam dengan keras pendekatan kaum creationist, karena hal ini merusak kaum Injili dari kemampuannya untuk melihat secara jernih tentang asal-usul manusia, usia bumi dan perubahan-perubahan geologis dan biologis. Menjadikan informasi di dalam Alkitab sebagai referensi mutlak bagi suatu cabang ilmu pengetahuan, dan menjadi ukuran bagi bangun dan runtuhnya suatu teori. Dengan demikian ilmu pengetahuan diadili di mahkamah agama, dan mahkamah agamanya pun sejak awal sudah menetapkan vonisnya bagi teori ilmu pengetahuan tersebut. Tidak berlebihan kalau Noll mengatakan bahwa sesungguhnya creationisme adalah sebuah agama. Dua tragedy dari hal ini adalah:[56]
First, millions of evangelicals think they are defending the Bible by defending creation science, but in reality they are giving ultimate authority to the merely temporal, situated, and contextualized interpretations of the Bible that arouse from the mania for science of the early nineteenth century. Second, with that predisposition, evangelicals lost the ability to look at nature as it was and so lost out on the opportunity to understand more about nature as it is. By holding on so determinedly to our beliefs concerning how we concluded God had made nature, we evangelicals forfeited the opportunity to glorify God for the way he had made nature. In a mirror reaction to the zealous secularists of the twentieth century, evangelicals have gone bac to thinking that we must shut up one of God’s books if we want to read the other one. (Noll, h. 199)
The Battle for the Bible adalah judul buku Lindsell, 1976. Keprihatinannya berkaitan dengan kekuatiran bahwa kaum Injili sudah mulai mengkompromikan inti dari komitmen mereka menyangkut ajaran inerrancy Alkitabiah. Seruan ini disambut dengan terbentuknya International Council on Biblical Inerrancy.
Sebelumnya pada awal 1970-an dua denominasi besar (the Southern Baptist Convention & Lutheran Chruch – Missouri Synod) sedang terlibat dalam perdebatan mengenai persoalan inerrancy di dalam gerejanya masing-masing. Dalam bukunya itu Lindsell antara lain menyatakan bahwa barang siapa yang menyangkal inerrancy, maka dia bukan lagi seorang Injili.
Semua orang sepaham dengan Lindsell bahwa kewibawaan Alkitab adalah dasar yang kokoh. Namun yang menjadi soal adalah pertanyaan mengenai bagaimana tepatnya Alkitab mengklaim kewibawaan dirinya sendiri. Dalam hal ini berkembang bermacam pendapat yang berbeda. Dan tampaknya tidak mungkin hanya ada satu jawaban atau penafsiran yang berlaku untuk seluruh evangelicalism.
Sejak awal 1970-an, kaum Injili telah bersikap toleran bahkan juga dipaksa untuk dapat menerima tantangan agar semakin bersikap terbuka atas persoalan inerrancy. Bersamaan dengan terbentuknya kelompok-kelompok baru di dalam neo-evangelical, terjadi juga berbagai perubahan paradigma. Di samping kaum Injili mapan, seperti Billy Graham dan kawan-kawan seangkatannya, ada juga kaum Injili muda. FTS turut bertanggungjawab dalam kemunculan mereka. FTS selalu berusaha menjaga hubungan baik dan menghormati lembaga-lembaga gereja. Dalam pengajarannya mereka tidak menempuh cara yang dilakukan oleh seminari-seminari liberal yang menantang orang untuk menjadi ragu-ragu, melainkan menginspirasikan para mahasiswanya. Namun FTS juga tidak seperti lembaga-lembaga fundamentalis yang menutup diri terhadap gagasan-gagasan yang berbeda, perbedaan ditoleransi dan dipercakapkan secara terbuka di FTS.
Keterbukaan seperti ini tampaknya bagi sebagian orang, termasuk Lindsell merupakan suatu bahaya. Pada tahun 1975, Paul Jewett, mempublikasikan bukunya, Man as Male and Female. Jewett adalah lulusan Westminster Seminary, dan jelas seorang Injili tulen. Ia juga menolak pandangan neo-ortodoks yang sedang berkembang saat itu, yang menyatakan bahwa Alkitab adalah kata-kata (kesaksian) manusia tentang Firman Allah dan karena itu tidak sepenuhnya sempurna. Dalam bukunya, yang menyebabkan Lindsell menyerangnya, dan juga kaum Injili lainnya yang mulai mengkompromikan ajaran inerrancy, Jewett mengatakan bahwa pernyataan rasul Paulus yang men-subordinasikan perempuan hanyalah bersifat lokal dan sementara. Sang Rasul telah melakukan kesalahan dalam hal ini. Paulus bersandar pada tradisi penafsiran rabinik tentang Kejadian, sehingga pengajarannya bertentangan ajaran Alkitab yang lebih utama/besar tentang perempuan, bahkan bertentangan dengan pernyataannya sendiri dalam Galatia bahwa di dalam Kristus tidak ada lagi laki-laki dan perempuan.
Di lingkungan FTS sendiri, telah muncul kehebohan, namun kehebohan menjadi meluas dengan terbitnya buku Lindsell, the Battle for the Bible. Pihak FTS sendiri setelah melakukan diskusi dan debat yang panjang, akhirnya memutuskan bahwa Jewett keliru ketika mengatakan bahwa rasul Paulus keliru. Serangan yang dilancarkan Lindsell bukan kepada Jewett pribadi tetapi terlebih kepada lembaga pendidikannya. Sehingga FTS-pun melakukan ‘serangan balasan’.
Serangan balasan ini ditujukan kepada pemahaman Alkitabiah Lindsell tentang hakikat Alkitab. Dalam salah satu jawaban atas serangan Lindsell, terbitlah The Authority and Interpretation of the Bible – A Historical Approach, 1979, yang secara ilmiah menyerang ajaran inerrancy. Rogers & McKim mengatakan:
‘the dogma of inerrancy was the product of seventeenth-century Protestant scholasticism which was later falsely equated with classical orthodoxy by nineteenth-century Princeton Seminary theologians. Inerrancy had not been the teaching, or even the view, of those such as Augustine and Calvin whom evangelicals typically cited as great champions of the historic faith. Rather, it was a modern invention reflecting later philosophical commitments, notably Princenton’s commitment to Scottish Common Sense Realism and its related attempt to ground the faith on indubitable principles of human reason.’
Hal ini menimbulkan gelombang protes dari kalangan pendukung inerrancy, dan pada 1978 terbentuklah ICBI. Dalam pertemuan mereka yang pertama dihasilkanlah ‘Chicago Statement on Biblical Inerrancy’. Lindsell sendiri pada 1979 mempublikasikan buku berikutnya, The Bible in the Balance, yang juga secara khusus menyerang FTS, sambil menyatakan bahwa mulai saat itu ia lebih suka menyebut dirinya fundamentalis daripada Injili : ‘fundamentalisme at the very least, lets everyone know they believe in a Bible that is free from error in the whole and in the part’.[57]
Dua kasus ini memperlihatkan semakin tajamnya perbedaan di antara kaum fundamentalis yang selalu memperjuangkan kebenarannya sendiri, dan amat tertutup terhadap yang lain, dengan kaum Injili yang relatif lebih membuka diri pada perkembangan yang ada dan sanggup bersikap kritis terhadap tradisi dan pemikirannya sendiri.
Keterbukaan seperti itu membuka kemungkinan-kemungkinan baru dan perkembangan baru, terutama dengan kehadiran kaum Injili dari luar Amerika-Inggris yang memberikan nuansa baru dalam gerakan Injili.
V: 1980-an à munculnya berbagai kemungkinan baru
Salah satu perkembangan di dalam gerakan ini adalah dimasukkannya gerakan ‘Signs and Wonders’ yang tidak hanya dipelajari secara teoritis di School of World Mission dari Fuller, tetapi juga dipraktekkan. Bagi beberapa orang hal ini akan tampak sebagai sebuah bagian dari perkembangan gerakan Pentakostal – Kharismatik. Berbeda dengan kaum fundamentalis yang tidak dapat menerima kaum Pentakostal dan Kharismatik, neo-evangelical cukup terbuka dengan mereka. NAE dapat menerima keanggotaan gereja-gereja tersebut, sedangkan ACCC tidak.
Secara sederhana pada paruhan pertama abad XX telah terjadi pertentangan di antara dua kelompok, yang satu menekankan hal-hal supra-natural (katakanlah kaum fundamentalis berada di sini) dan yang lain menekankan hal-hal yang natural (kaum liberal ditempatkan di sini). Dalam hal terjadinya Alkitab, kaum fundamentalis menekankan intervensi dan tuntunan ilahi di dalam pewahyuan Alkitab (supra-natural), sementara kaum liberal melihatnya sebagai buah karya manusia belaka (natural). Pandangan ini tentu saja amat menyederhanakan masalah, namun kaum injili progresif memakai polarisasi ini untuk mengatakan bahwa mereka berada di tengah-tengahnya. Mereka ingin mempertahankan pengakuan asal-usul yang supranatural dari Alkitab, namun juga berkeberatan dengan doktrin inerrancy karena mempertimbangkan juga keterlibatan manusiawi dalam proses terjadinya Alkitab. Dengan pola yang sama kaum Injili progresif menempatkan dirinya di tengah dalam keterbukaan dan penerimaan kepada gejala-gejala Pentakostal dan Kharismatis ini. Meski mereka dapat menerima klaim kaum Pentakostal – Kharismatik tentang kuasa Roh yang bekerja, namun mereka juga mengajukan pertanyaan-pertanyaan kritis mengenai penekanan yang berlebih-lebihan terhadap keajaiban itu sendiri. [58]
Kemungkinan perkembangan yang lain terjadi di dalam interaksi dengan kalangan Injili di lingkungan yang lebih luas, dengan rekan-rekan mereka di benua yang lain. Dan juga dengan kalangan gereja-gereja arus utama, yang yang dikatakan modern dan liberal.
Menyebarnya pengaruh gerakan ini
· perkembangan gerakan ini di luar Amerika & Inggris[59]
Di luar Amerika gerakan Injili memiliki irama dan sejarahnya sendiri. Seperti juga Amerika pada masa Imperium Injili gereja-gereja (Protestan) di belahan bumi yang lain, melihat dirinya sebagai gereja yang Injili. Bahkan gerakan keesaan sedunia, dalam kiprah WCC, memiliki akar dalam gerakan penginjilan sedunia, dengan konperensi penginjilan dan badan-badan penginjilan yang menjadi pencetus semangat dan kesadaran akan kesatuan gereja ini. Oleh karena itu polarisasi yang terjadi di antara kaum injili dan kaum ekumenikal harus dilihat dan dinilai secara kritis.
Dalam penelitiannya Ellingsen menemukan bahwa di beberapa tempat ia menemukan adanya komunitas-komunitas injili. Namun berbeda dengan yang dianggap oleh banyak orang injili sendiri, komunitas ini belum terkontaminasi oleh polarisasi yang dibawa oleh lembaga-lembaga Kristen dari Amerika dan Inggris. Kondisi mereka kurang lebih sama dengan imperium injili di Amerika sebelum perang saudara pada abad XIX. Kehadiran orang-orang Injili yang membawa suasana permusuhan terhadap lawan-lawan mereka di negara asalnya, menular kepada banyak kawasan di luar Amerika. Oleh karena itu ada penyesalan dari, antara lain, para tokoh Injili Amerika Latin terhadap para penginjil injili dari Amerika yang membawa ke daerah mereka polarisasi Fundamentalis-Modernis yang tidak mereka kenal sebelumnya. Di tempat lain, di dunia ketiga dan di Eropa, terdapat corak Injili yang konservatif menurut pola Pietisme klasik dari abad XVII, yang sama sekali tidak pernah memperdebatkan soal-soal yang muncul di Amerika (misalnya: inerrancy dan creationisme).
Disertasi Richard Siwu Misi dalam pandangan Ekumenikal dan Evangelikal Asia, dan dokumen yang disunting C.R. Padila, The new face of Evangelicalism – an international symposium on the Lausanne Covenant, memperlihatkan bagaimana aspek-aspek keterlibatan sosial kemasyarakatan (dan dasar-dasar teologisnya) merupakan sumbangsih aktif dari para teolog Injili dunia ketiga yang tidak mau terjebak dalam polarisasi yang berkembang di Amerika (yang mempertentangakan pekabaran injil dan keterlibatan sosial-kemasyarakatan). Dan pandangan yang mulai muncul di awal 1970-an ini berkembang terus, sehingga mengubah kesadaran kaum Injili di Amerika juga. Munculnya kalangan injili progresif terjadi dalam proses interaksi yang seperti ini.
Perspektif gereja-gereja arus utama
Pada awal tahun 1980-an Hutcheson sudah melihat tanda-tanda yang memberi harapan untuk saling mendekatnya kaum Injili dengan kaum Liberal, ketika terjadi perubahan-perubahan di kedua belah pihak, untuk sama-sama mencari posisi di tengah.[60]
Robert A. Evans (Hartford Seminary Foundation) mendefinisikan posisi di tengah itu sebagai keseimbangan antara kesetiaan dan efektivitas (faitfullness and effectiveness). Dari perspektifnya yang liberal ia berangkat dari keyakinan bahwa gereja dipanggil oleh Kristus untuk mengubah kebudayaan. Dengan demikian ia menggunakan pendekatan analisis berorientasi pada tindakan sosial. Menurut Evans liberalisme menggunakan pendekatan afirmasi budaya (a Christ-of-culture model), dan di seberangnya kaum fundamentalis menggunakan pendekatan menyangkal budaya (a Christ-against-culture model). Pilihannya pada Kristus yang mengubah (a Christ-transform-culture model) adalah jalan tengah yang ideal. Ia juga mengkritik gerakan Pertumbuhan Gereja (Church Growth) yang dari kalangan Injili yang menekankan pentingnya pertumbuhan (dalam arti pertambahan yang progresif jumlah anggota gereja). Bagi Evans yang Allah inginkan dari gereja bukanlah pertumbuhan, melainkan kesetiaan.
Richard F. Lovelace (Gordon-Conwell Theological Seminary) juga memiliki definisinya sendiri mengenai posisi di tengah itu. Ia melihat perbedaan di antara kedua kelompok yang ada bukan dari sudut penerimaan atau penolakan budaya, tetapi bahwa masing-masing kelompok dengan caranya masing-masing telah ‘enculturated’ (tenggelam di dalam budaya). Yang pertama seperti burung onta, memalingkan muka dari budaya dan terbenam dalam Alkitab, sehingga hampir menjadi sebuah ketenggelaman, dhi. menjadi agama rakyat; Sementara pihak lainnya, menyibukan diri dengan upaya untuk mengintegrasikan dunia modern dengan pemikiran Alkitabiah, dan tak jarang kehilangan nilai-nilai Alkitab itu sendiri. Hal ini menghasilkan ketenggelaman yang lain, yaitu berkompromi dengan alam pikiran sekular.
Jalan tengah yang ditawarkan Lovelace adalah ortodoksi yang hidup (live orthodoxy). Ortodoksi yang mati telah menciptakan jurang yang memisahkan dan menenggelamkan keduanya, maka ortodoksi yang hidup dapat menjadi jembatan untuk mempertemukan kembali keduanya. Ortodoksi yang hidup ini berfokus pada kebenaran Alkitabiah terapan (applied biblical truth) dan bukan pada biblisisme. Alkitab tidak digunakan sebagai doktrin yang mematikan, melainkan untuk menyembuhkan. Dengan demikian doktrin Alkitabiah dapat digunakan baik untuk penginjilan maupun kesaksian kenabian sosial gereja.
Hutcheson memberi komentar terhadap kedua proposal jalan tengah ini. Evans mencari titik tengah dalam terminologi transformasi budaya, sementara Lovelace mencarinya dari sudut ortodoksi. Hal ini bisa dipahami karena dari kiri berorientasi pada aksi, dari kanan berorientasi pada ajaran. Bagaimanapun juga upaya-upaya saling mendekatkan diri dan membangun jembatan, mencari titik tengah seperti ini patut dihargai dan dilanjutkan.
· saling mempengaruhi di antara dua-orientasi teologis ini[61]
Di kalangan injili kita sudah melihat muncul kesadaran baru untuk melepaskan diri dari dikotomi pekabaran injil (pekerjaan kaum injili, konservatif) dan keterlibatan sosial-kemasyarakatan (pekerjaan kaum ekumenikal, liberal). Di kalangan kaum ekumenikal liberal (di Amerika)-pun sudah muncul sejak 1970-an kesadaran akan pentingnya memperhatikan agenda-agenda yang selama ini dianggap sebagai agenda eksklusif kaum injili. Dalam seminari liberal telah berkembang perhatian lebih banyak atas soal-soal: spiritualitas (spiritual formation di samping intellectual formation); studi atas evangelisasi yang sebelumnya tidak terlalu diperhatikan; perhatian juga diberikan atas perkembangan gerakan kharismatik sebagai persoalan dan kebutuhan yang kongkret karena juga telah terjadi penetrasi dari gerakan ini ke dalam gereja-gereja arus utama; percakapan dialogis dengan kalangan injili (salah satunya mis. C.H. Pinnock dan D. Brown, Theological Crossfire – an evangelical/liberal dialogue); dan yang tidak kalah menariknya adalah perhatian kepada warisan kekayaan Kekristenan klasik (karya para tokoh pasca-apostolik, apologet dan patristik latin dan yunani), setelah terlalu lama berurusan dengan perkembangan tahun 60-an dan 70-an yang penuh dengan gejolak; tumbuhnya minat untuk mempelajari karya-karya teologis dari kalangan Injili dan mendiskusikannya dengan posisi mereka sendiri.
Saya sendiri menggunakan tulisan-tulisan dari kalangan Injili untuk mencoba memahami diri mereka dari dalam, ketika menyusun bahan ini.
· bagaimana di Indonesia?
Berbeda dengan rekan-rekannya di Amerika Latin, kaum Injili di Indonesia masih punya kecenderungan terjebak dalam polarisasi ala Amerika. Bahkan tanpa disadari sebagian dari mereka cenderung bersikap fundamentalis-separatis, baik dengan sesama Injili, apalagi dengan gereja-gereja yang dianggap bukan Injili.
Mempertahankan mati-matian soal inerrancy dan creationisme bukanlah sikap umum kalangan injili. Demikian juga menolak kaum Pentakosta dan Kharismatik ke dalam koalisi Injili. Keduanya hal ini cukup untuk mengatakan bahwa mereka masih terjebak dalam polarisasi yang diimpor dari Amerika dan belum keluar dari perangkap fundamentalisme.
Menarik untuk dicatat, bahwa ada para church organization yang juga diimpor dari Amerika, namun dalam kiprahnya amat memperhatikan kerjasama dengan gereja-gereja (sikap inklusif dari kalangan neo-evangelical) dan memperhatikan kondisi sosial-ekonomis-kemasyarakatan, tanpa terlalu memaksakan pertobatan massal (sikap injili progresif pasca Lausanne 1974), kalau saya boleh menyebut satu saja, itulah World Vision International, yang di Indonesia dikenal sebagai Wahana Visi Indonesia.
Saya kira yang diusulkan oleh Hutcheson baik untuk diperhatikan oleh gereja-gereja arus utama, bahwa sudah tidak saatnya lagi jalan peperangan yang dipilih di dalam polarisasi yang (masih) ada (dan yang oleh kalangan tertentu sengaja dipertahankan). Jalan yang diusulkan oleh Hutcheson adalah gereja-gereja arus utama harus terlibat aktif dalam kerjasama dengan rekan-rekan Injili yang memang bersedia bekerja sama, sehingga semangat kesatuan, dan kiprah keesaan di antara dua saudara (yang tidak seharusnya) bertengkar ini bisa menghasilkan sesuatu buat dunia yang dicintai oleh Allah.
Pdt. Yusak Soleiman
anggota Komisi Pengkajian Teologi GKI SW Jawa Barat
Maret – Mei 2002
Bahan bacaan[62]
Ahlstrom, Sydney E., A Religious History of the American People (1972)
Padilla, C. Rene (ed.), The New Face of Evangelicalism (1976)
James Barr, Fundamentalism (1977)
Hutcheson, Richard G., Mainline churches and the evangelicals (1981) *
Gundry, S.N & Johnson, A.F. (eds.), Tensions in Contemporary Theology (1983)
White, Jerry Gereja dan Yayasan Penginjilan – hubungannya kurang harmonis (terj. The Church and the Parachurch, 1983) *
James Barr, Escaping from Fundamentalism (1984)
Daun, Paulus, Apakah Evangelicalisme itu? (1986) *
Marsden, G.M., Reforming Fundamentalism (1988) *
Ellingsen, M, The Evangelical Movement (1988) *
Pinnock, C.H. & Brown, D., Theological Crossfire – an evangelical/liberal dialogue (1990)
Marsden, G.M., Understanding Fundamentalism & Evanglicalism (1991) *
Dayton, Donald W. & Johnston, Robert K. (eds.), The Variety of American Evangelicalism (1991) *
Schultze, Quentin J., Televangelism and American Culture – The Business of Popular Religion (1991)
Noll, Mark A., Between Faith and Criticism – evangelicals, scholarship, and the Bible (1986; 1991)
Dayton, Donald W., Discovering an Evangelical Heritage (1976; 1992)
Noll, Mark A., A History of Christianity in the United States and Canada (1993) *
Lints, Richard, The Fabric of Theology – A Prolegomenon to Evangelical Theology (1993)
Noll, Mark A., The Scandal of the Evangelical Mind (1994)
Tong, Stephen, Reformasi dan Teologi Reformed (1994)
McGrath, Alister, Evangelicalism and the Future of Christianity (1995) *
Aritonang, Jan Sihar, Berbagai aliran di dalam dan di sekitar Gereja (1995) *
Abraham, William J., The Logic of Evangelism (1989; 1996)
· Siwu, Richard A.D., Misi dalam pandangan Ekumenikal dan Evangelikal Asia – 1910-1961-1991 (1996)
Salter, Darius, American Evangelism, its Theology and Practice (1996)


(*) adalah bacaan-bacaan utama yang dipergunakan dalam penyusunan studi-awal ini

[1] Dipresentasikan dalam acara Diskusi Bulanan yang diselenggarakan oleh Komisi Pengkajian Teologi GKI Sinode Wilayah Jawa Barat, 18 Mei 2002.
[2] Sayangnya banyak orang-orang fundamentalis Kristen Indonesia, yang sangat terjebak dan terpengaruh ke dalam polarisasi yang dianggapnya berlaku universal, sehingga tidak henti-hentinya menghembuskan klaim-klaim fundamentalisnya, yang dikiranya adalah berita Injil yang universal itu sendiri.
[3] Ketika upaya pemurnian gereja dilakukan dengan dasar ketaatan lebih kepada Firman yang terdapat di dalam Alkitab, daripada kepada hirarki dan keistimewaan gereja sebagai lembaga keselamatan.
[4] Ketika aktivitas penyebaran kabar baik Yesus Kristus menjadi suatu yang menentukan mati hidupnya gereja dan kehidupan orang-orang percaya.
[5] Para teolog Evangelikal yang membahas pokok ini umumnya sepakat dengan pendekatan ini, lihat Marsden (1988, 1991), Dayton & Johnston, (1991), Ellingsen (1988), McGrath (1995), Noll (1993), Salter (1996)
[6] McGrath (1995), h. 27.
[7] Marsden (1988, h. 2; 1991, h.11); sementara dari pihak mainline kita melihat Hutcheson (1981), h. 28 menggunakan istilah evangelial consensus.
[8] Reaksi di Amerika berbeda dengan reaksi di Eropa karena beberapa hal: proses sekularisasi telah berlangsung cukup lama di Eropa, sementara Amerika belum pernah mengalaminya, amat bisa dimengerti bila mereka terkejut, bahkan panik; proses pemisahan antara kehidupan masyarakat dan gereja sudah berlangsung di Eropa, sementara di Amerika Imperium Injili justru mengupayakan terintegrasikannya nilai-nilai Kristen/Injili ke dalam kehidupan masyarakat secara luas, sehingga cukup sulit mengadakan pembedaan di antara urusan agama/gereja dengan urusan non-agama/non-gerejawi.
[9] Di Eropa, khususnya di Jerman metode ini sudah dikembangkan lebih dari satu generasi. Tentu saja ada juga penolakan terhadap metode ini dari orang-orang yang amat menghargai Alkitab dan menganggap bahwa metode ini telah merusak pesan-pesan dan nilai-nilai rohani-teologis dari Alkitab. Namun sebagai sebuah metode ilmiah, pendekatan ini justru hendak menjawab tantangan dari perkembangan-perkembangan yang terjadi setelah Pencerahan dengan memilih untuk berjalan maju.
[10] Bacon meletakkan dasar untuk ilmu alam dengan memperkenalkan metode induktif dan mempersiapkan jalan bagi ilmu-ilmu eksperimentasi modern.
[11] Ellingsen (1988), h. 56: ‘… which presupposed that human beings are capable of real knowledge and correct moral insight in virtue of universal common sense’; Noll (1994), h. 24: ‘…a distinctly evangelical approach to the life of the mind that featured the philosophy of common sense, the moral instincts of republicanism, the science of Francis Bacon, and a disposition toward evidential reasoning in theology’.
[12] Ellingsen, h. 56: mencatat kecenderungan anti-Katolisisme pada beberapa kelompok Injili berasal dari periode ini; Marsden (1991), h. 14, antara tahun 1860-1900 sementara anggota gereja-gereja Protestan bertambah tiga kali lipat (5 juta à 16 juta), anggota gereja Katolik berlipat empat (3 juta à 12 juta).
[13] Marsden (1991), h. 14-15.
[14] Noll, ibid, h. 100: ‘view of science were changing from static and mechanistic to developmental and organic, attitude toward academic work from teleological and doxological to progressive and functional, perspectives on religion from particularistic and theistic to universalisctic and agnostic’
[15] Secara spesifik Marsden (1991), h. 1, memang menunjuk kepada kaum Fundamentalis yang muncul pada periode ini, yang geram terhadap perubahan yang terjadi ini; Noll, ibid., : ‘Fundamentalism, dispensational premillennialism, the Higher Life movement, and Pentecostalism were all evangelical starategies of survival in response to the religious crises of the late nineteenth century. In different ways each preserved something essential of the Christian faith. But together they were a disaster for the life of the mind.’
[16] Saya cenderung sepandapat dengan Noll, h. 101, bahwa sebetulnya ada tiga kelompok: ‘1) the more liberal evangelicals moved with the times, conceded the hegemony of the new science, and sought to preserve in a new form the old harmonies of the American Protestant Enlightenment. … came theological modernism … 2) populist evangelicals, the later fundamentalists, made a more complicated responses. They moved both with and against the times – with, by adopting the new applied technologies of mass media and public marketing, against, by resisting the evolution of the old science into the new. … to preserve the American Protestant Enlightenment, but with its old content as well as its old form … 3) the majority of evangelical Protestants vacillated in the middle. They were nostalgic for the old intellectual harmonies, unsettled by the tendency of the new science to dismiss traditional Christian conviction, but unwilling to decide decisively for either the old paradigm with its harmony between science and theology or the new with its division between theology and science.’ Namun untuk memperjelas duduk persoalan yang ada baiklah kita memberi perhatian pada dua kelompok yang pertama saja. Sambil mengingat bahwa sebagian terbesar umat Kristen (saya kira juga sampai dengan hari ini) masih berada pada kelompok ketiga (jadi bukan pada kelompok kedua, seperti yang sering diklaim kaum Fundamentalis), yang oleh penelitian Ellingsen di Eropa dan Asia (juga dalam penelitian Hutcheson – di Afrika) bisa disebut sebagai kaum Injili pra-kritis (dalam arti ‘mereka yang tidak berada di dalam polarisasi antara kaum modernis dan kaum fundamentalis’).
[17] Istilah yang lebih tepat adalah modernisme untuk menunjukkan pendekatan yang digunakan oleh kelompok ini. Istilah liberalisme sering dikacaukan dengan suatu perkembangan teologi yang terjadi di Eropa pada kurun waktu yang kurang lebih bersamaan (yang dalam hal tertentu memang berhubungan; namun dalam perkembangan berikutnya di Eropa dan Amerika menempuh perjalanan yang berbeda).
[18] Secara khusus Noll memberi judul bukunya the Scandal of the Evangelical Mind, sebagai sebuah otokritik terhadap kaum Injili dan Fundamentalis yang memiliki kecenderungan untuk selalu mencari jawaban dan jalan yang mudah untuk menjawab dan menyelesaikan persoalan-persoalan yang rumit, sehingga merusak kemampuan berpikir dan kemampuan menghadapi kenyataan dunia yang ada, khususnya bagi kalangan Injili dan Fundamentalis.
[19] Marsden, h. 32-36; Hutcheson, h. 29-30.
[20] Kekuatan dari pendekatan ini adalah ditafsirkan ulangnya tradisi Kristen dan mengamankannya dari serangan metode historis modern dan pendekatan kritis lainnya. Pendekatan Darwinisme mengenai proses perkembangan menjadi bahasa ilmiah yang umum pada waktu itu, dan cocok dengan pendekatan ini. Pernyataan dan pengakuan yang dilahirkan dalam sejarah Israel dan Kekristenan mula-mula bisa dipahami sebagai bagian dari suatu proses perkembangan, dan memiliki keabsahan dan keunikan pada zaman mereka sendiri, sehingga tidak harus kehilangan kewibawaannya karena sudah tidak terlalu cocok lagi dengan data-data ilmiah dan ilmu pengetahuan terbaru.
[21] Pendekatan ini menghasilkan penekanan pada pentingnya Pendidikan Kristiani (Christian education). Hal ini juga sejalan dengan pengalaman banyak orang-orang Kristen pada periode ini yang mengalami pembinaan dan pertumbuhan di dalam gerejanya (Christian nurture) dan bukan melalui pengalaman pertobatan radikal (seperti pada periode terjadinya gerakan Kebangunan Rohani). Pada masa ini sangat kuat kesadaran akan pesan-pesan sosial dalam Injil, tema yang menonjol adalah berteladan pada Yesus dan memperhatikan apa yang akan diperbuat oleh Yesus dalam berbagai kenyataan sosial-kemasyarakatan yang ada. Social gospel berada dalam semangat ini juga. Semua ini merupakan warisan dari semangat Puritanisme generasi sebelumnya yang juga memiliki keprihatianan dan komitmen yang besar pada soal-soal kemasyarakatan dan kehadiran Kristen yang kongkret, seperti yang juga menonjol dalam gerakan anti-perbudakan pada masa-masa sebelum Perang Saudara (1861-5). Oleh sebab itu kelompok modern ini banyak terdapat dalam kaum urban berkulit pulih di bagian utara Amerika, sedangkan di bagian selatan yang lebih bersuasana pedesaan masih hidup banyak pemikiran pra-kritis yang belum terlalu dipengaruhi oleh ‘guncangan keras’ yang terjadi pada masa ini. Memang kemudian setelah terjadi polarisasi (di bagian utara) antara kaum modernis dan kaum konservatif, daerah-daerah di selatan banyak sekali yang merasa lebih cocok dengan pandangan kaum konservatif yang simple (bahkan over-simplification). Jadi pertama-tama bukan polarisasi daerah utara dan selatan, juga bukan polarisasi antara kota dan desa; sebab pertama-tama semua itu terjadi di utara, di daerah perkotaan dan di antara sesama orang-orang kulit putih.
[22] Pendekatan ini mengadakan pemisahan yang tegas antara wilayah bagi ilmu pengetahuan, yang boleh mengambil kesimpulan apapun pada bidangnya sendiri, namun yang tidak dapat masuk dan menyentuh kawasan yang lain. Sebab dalam kawasan di mana terdapatlah kebenaran agama, dengan perasaan ketergantungan sebagai tolok ukurnya, akal budi dan ilmu pengetahuan tidak dapat menggapainya.
[23] Ellingsen, h. 55: ‘… developed as theological responses to what was perceived as a society and Church in decay … , although in some instances they were not so much reacting against Enlightenment secularism as against a perceived sense of spiritual and moral apathy in the church and society of their day … to restore or maintain the ‘good old days’ – ‘the old-time religion’.’
[24] karena teori ini dianggap menyerang iman pada dua hal pokok: 1) adanya implikasi atas akurasi Alkitab, padahal kalau Alkitab bisa dibuktikan tidak akurat maka runtuhlah kewibawaannya; 2) teori tersebut secara tidak langsung mengancam teologi yang menyatakan bahwa Allah telah menciptakan dunia ini dengan suatu pola tertentu yang bisa dipelajari, agar dengan demikian manusia bisa mengagumi Allah dan agar orang-orang yang bukan Kristen dapat diyakinkan tentang keagungan Allah ini (argument from design). Darwinisme (yang sayangnya tidak seluruh argumennya dipelajari oleh kaum konservatif yang ingin cepat-cepat menarik kesimpulan yang gampang dan populer) dianggap dapat menyingkirkan argument from design, karena menerangkan segala kerumitan dan keteraturan yang ada di alam ini, terjadi melalui berbagai macam kebetulan, dan bukan karena adanya intelligent designer di belakang semuanya itu.
[25] C. Hodge (1874) dari Princeton Theological Seminary, menyatakan bahwa Darwinisme adalah ateisme.
[26] Doktrin ini bukanlah sebuah doktrin yang sama sekali baru. Sebab selama berabad-abad, khususnya di kalangan kaum konservatif Protestan sudah ada pemahaman seperti ini. Pada masa yang lampau doktrin ini tidak terlalu menonjol karena belum ada tantangan yang sebesar pada akhir abad XIX ini.
Kita perlu menyebut di sini sedikit tentang PTS dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam perdebatan awal di seputar doktrin ini, dan yang memiliki dampak terhadap polarisasi di dalam gereja: A.A. Hodge (1823-86) dan B.B. Warfield (1851-1921) dari PTS, pada 1881 mengeluarkan sebuah artikel yang menyatakan bahwa semua pernyataan dalam Alkitab diilhami oleh Allah, sepenuhnya tanpa kesalahan ‘in the original autograph’. Dalam tulisan tersebut keduanya menekankan bahwa setiap kalimat dalam Alkitab diilhami (verbal inspiration) dan bahwa semua bagian dari Alkitab diilhami (plenary inspiration), dan oleh karena itu tidak dapat dibuktikan salah bahkan menurut ukuran sejarah maupun ilmu pengetahuan. C.A. Briggs (1841-1913) dari Union Theological Seminary di New York, pada 1891 menyerang doktrin dari Hodge dan Warfield ini. Brigss menyatakan bahwa orang-orang Kristen harus menerima kenyataan bahwa Alkitab berisi beberapa kesalahan kecil yang tidak terlalu menentukan bagi ajaran pokoknya. Hal ini menyebabkan Briggs harus disidangkan oleh gerejanya the Presbyterian church. Ia dan UTS akhirnya keluar dari gereja Presbyterian. Sepanjang tahun 1878-1906 hampir semua denominasi Protestan mengalami hal yang kurang lebih sama, menyidangkan kasus-kasus seperti ini. Namun tidak dalam semua kasus kaum konservatif memperoleh kemenangannya. Pada awal 1900-an seminari-seminari di daerah utara dikuasai oleh kalangan liberal. Persaingan di antara kaum moderat dan konservatif ini tidak langsung berpengaruh pada kehidupan warga gereja biasa. Bahkan banyak warga gereja yang sama sekali tidak menyadari bahwa telah terjadi suatu pergeseran – yang menimbulkan pertikaian teologis – di dalam gereja.
Menarik untuk dicatat bahwa tidak semua kalangan konservatif dapat menerima doktrin inerrancy. A.H. Strong (1836-1921) dari Rochester Theological Seminary, meskipun konservatif dalam pandangan teologisnya, ia tidak mau menggunakan doktrin ini di dalam buku Systematic Theology-nya. Baginya pengalaman keagamaan pribadi dan moralitas praktis adalah jauh lebih penting diperhatikan daripada doktrin semacam itu.
Tidak kalah menariknya pernyataan yang dibuat oleh Warfield (1888) berkaitan dengan penciptaan dan evolusi: ‘… I do not think that there is any general statement in the Bible or any part of the account of creation , either as given in Gen I & II or elsewhere alluded to, that need be opposed to evolution’.
Perbedaan-perbedaan dalam pendekatan ini memperlihatkan bahwa di satu pihak mereka berusha untuk mempertahankan (conserving) sebanyak mungkin dan bukan melakukan pembaruan (innovating), sambil berusaha untuk memberi tempat kepada perkembangan yang terjadi di dalam dunia ilmu pengetahuan, dan melakukan kombinasi di antara keduanya dengan harapan dapat memberikan tuntunan pada perkembangan kebudayaan secara umum dan juga kepada gereja. Namun seperti yang terjadi kemudian pada abad XX, cita-cita seperti ini tidaklah realistis, dan jarak antara Protestan Injili – yang bercita-cita mengembalikan harmoni Imperium Injili pra-Perang Saudara – dengan dunia pendidikan sekular dan hasil-hasilnya semakin terpisah jauh – suatu hal yang sudah terjadi dan disadari di Eropa beberapa abad sebelumnya. (Ellingsen, h. 73-80; Marsden, h. 37-9; Noll [1993], h. 370-373)
[27] Marsden (1991), h. 39-44; Noll (1994), h. 115-20.
[28] Ajaran ini sangat menekankan cara membaca Alkitab literalistik dang pendukung kuat ajaran inerrancy Alkitab. Sesungguhnya ajaran ini berasal dari Inggris dan pertama kali muncul di Amerika dalam rangkaian konperensi kenabian yang melakukan studi mendalam terhadap Alkitab. Sekolah-sekolah Alkitab yang muncul dari rangkaian konperensi tersebut, antara lain Moody Bible Institute (1886) selain menjadi pusat perkembangan ajaran ini, juga menjadi pendorong penting bagi gerakan Fundamentalis pada awal abad XX.
Pendekatan dalam upaya para dispensasionalis ini sangatlah anti-modern. Ketika kaum modernis bersikap optimistic terhadap budaya modern, maka kaum dispensasionalis bersikap pesimistik. Ketika kaum modernis membaca Alkitab dengan pendekatan sejarah (hubungan manusia dengan Allah), maka kaum dispensasionalis membaca sejarah melalui ‘kaca mata’ Alkitab. Ketika kaum modernis menekankan dan memperhatikah hal-hal yang alamiah, manusiawi, maka kaum dispensasionalis memberikan penekanan pada hal-hal yang supra-natural, pada intervensi langsung dari Allah sebagai solusi langsung atas persoalan-persoalan manusia modern. [saya jadi teringat ada dua acara berjudul SOLUSI di televisi-televisi swasta kita: yang satu menyibukkan diri dengan urusan supranatural dan mujizat; yang lain berurusan dengan pemikiran dan kerja keras manusia untuk menyelesaikan persoalan]
[29] Variasi aliran yang ditimbulkan oleh gerakan ini sedemikian banyaknya. Perhatian mereka juga tidak hanya tertuju kepada kemurnian personal, tetapi juga pada pelayanan kepada orang-orang tersisih, Bala Keselamatan termasuk bagian dari gerakan kesucian. Namun umumnya mereka memang memisahkan diri dari denominasi-denominasi besar yang sudah mapan, dan menjadi gerakan/gereja mandiri yang memberi perhatian pada orang-orang yang kurang terperhatikan dalam masyarakat: kaum imigran dan kelas pekerja yang berasal dari stata sosial yang menengah ke bawah. Perbedaan sosial ini juga cukup menjadi ciri yang membedakan mereka dengan kaum modernis yang berada di gereja-gereja mapan dan kelas sosial yang lebih tinggi.
[30] Noll (1994), h. 120
[31] Pada awal abad ini, istilah ini tidaklah memiliki konotasi seburuk sekarang ini. Bahkan kaum Injili konservatif tidak melihat perbedaan yang signifikan untuk penyebutan Injili/evangelical dengan fundamentalis.
[32] Gereja-gereja Presbyterian dan Baptist adalah denominasi yang paling merasakan dampak dari terjadinya polarisasi pada tahap awalnya.
[33] Menurutnya teologi modern ini menyangkal unsur-unsur supranatural yang penting dalam Kekristenan dan mempromosikan keunggulan manusiawi. Yang paling baik adalah kaum modernis ini keluar dari gereja dan mendirikan gerejanya sendiri.
[34] Tidak seperti yang sering dikatakan orang The Fundamentals sebetulnya memperlihatkan pendekatan yang cukup moderat dan ilmiah di dalam argumentasi yang dikemukakannya. Agak berbeda dengan pendekatan yang digunakan oleh kaum Fundamentalis sesudah 1920 (pasca PD I) yang cenderung lebih agresif.
[35] Digunakan oleh seorang editor Baptis, Curtis Lee Laws untuk menyebut mereka yang siap ‘to do battle royal for the Fundamentals’
[36] Ellingsen, h. 88-90; Noll (1993): , h. 384-5; Marsden (1988), h. 41-44: Harry Fosdick menerbitkan kotbahnya ‘Akankah kaum Fundamentalis menang?’ (1922) Ia menolak dan menyerang unsur-unsur millennialisme dan eksklusivisme dari kelompok ini, dan menganjurkan toleransi. Dalam masa itu gereja Presbyterian cukup dikuasai oleh kelompok fundamentalis, termasuk Machen di dalamnya yang bukunya telah menjadi semacam ‘Alkitab’ bagi kelompok fundamentalis kala itu. Dalam sidang sinode 1923 Fosdick dikecam secara resmi, dan Five-Point Deliverance, 1910 diterima secara resmi. Tahun berikutnya, 1924, terjadi arus balik ketika lebih dari 1200 pendeta menantang sikap-sikap intoleran dan kekuasaan fundamentalisme di dalam gereja, dan juga menyatakan bahwa Five-Points hanyalah sebuah teori dan tidak dapat menggantikan dasar gereja yang sudah ada. Fosdick sendiri mengundurkan diri dari gereja Presbyterian dan menjadi pendeta Riverside Church di New York. Ia melanjutkan reputasinya pengkotbah yang popular dari kalangan liberal, ia juga memiliki siaran radionya sendiri. Gereja maupun radio ini didukung oleh Rockefeller.
Penolakan terhadap fundamentalisme dalam gereja Presbyterian terus berlanjut. Dalam sinode 1925 secara prinsipil Five-Points ditolak. Kepemimpinan beralih dari kaum fundamentalis ke tangan orang-orang yang lebih moderat. Dalam proses menjadi guru besar di PTS Machen mengalami penghambatan dari pihak gereja, dengan maksud mengurangi kecenderungan fundamentalis di PTS. Machen menarik diri dari PTS dan bersama dengan rekan-rekannya mendirikan WTS di Philadelphia, yang kemudian menjadi benteng bagi pendidikan teologi kaum Fundamentalis Injili.
Masih ada satu lagi medan pertempuran, setelah pimpinan dan pendidikan tidak berhasil dikuasai oleh kaum fundamentalis, yaitu badan penginjilan. Setelah gagal dalam sinode 1933 untuk membatasi pengaruh kaum liberal dalam badan penginjilan gereja, Board of Foreign Missions, maka Machen dan rekan-rekannya mendirikan Independent Board for Presbyterian Foreign Missions. Para penginjil liberal dianggap tidak mengkotbahkan injil keselamatan melalui karya penebusan Kristus, melainkan mengharmonisasikan Kekristenan dengan iman non-Kristen.
Para anggota badan penginjilan independen (dalam arti tidak lagi berhubungan secara kelembagaan dengan gereja Presbyterian) harus menandatangani Five-Points. Pihak gereja tidak dapat menerima adanya badan misi yang alternatif di dalam tubuhnya. Maka pada sinode 1936 dikeluarkan larangan bagi para pejabat gereja untuk duduk di badan independen ini. Machen dan kawan-kawannya sudah menduga akan perkembangan ini, dan mereka mulai menyiapkan pembentukan denominasi baru. Ia juga menentang keputusan sinode, akibatnya ia dikenakan sanksi oleh gereja.
Setelah semua kegagalan ini, akhirnya Machen dan sebagian rekan-rekannya, antara lain Carl McIntire mendirikan the Presbyterian Church of America ( sekarang dikenal sebagai the Orthodox Presbyterian Church). Sebagian lagi rekan-rekan Machen memilih untuk tetap tinggal di dalam gereja Presbyterian. Dalam waktu yang singkat gereja baru ini juga mengalami perpecahan ketika McIntire mendirikan gerejanya sendiri, the Bible Presbyterian Church. Yang pertama tetap berusaha untuk mempertahankan Calvinisme konfesional, sedangkan yang kedua menambahkan pada Calvinismenya unsur-unsur premillennialisme , dan sejumlah hal moral praktis seperti larangan minuman beralkohol. Kelompok McIntire juga mendirikan perguruan teologinya sendiri, Faith Theological Seminary.
Gerakan Machen ini memperlihatkan mulai berkembangnya kecenderungan: 1) bersikap keras, tanpa kompromi terhadap keyakinan yang berbeda; 2) separatisme sebagai sebuah pilihan untuk tetap konsisten dengan keyakinan sendiri; 3) semakin berkurangnya penghargaan terhadap kepemimpinan gereja dan kewibawaan menjadi tergantung pada sejumlah tokoh kharismatis yang kuat.
[37] Ellingsen, h. 90-92; Marsden (1991), h. 60-61; McGrath, h. 35-6; Erickson, h. 21: Pada dasawarsa kedua abad XX negara-negara bagian di selatan mulai melarang pengajaran teori evolusi di sekolah-sekolah. Dimulai dari Oklahoma, 1923 dan kemudian juga Tennessee, 1925. Undang-undang ini diuji pada tahun 1925 dengan sebuah persidangan yang terkenal sebagai the Scopes Trial atau lebih popular the Monkey Trial. Scopes harus berhadapan dengan hukum, karena UU yang baru disahkan itu.
Clarence Darrow (1957-1938) seorang pengacara yang juga tidak menyukai agama, menjadi pembela bagi Scopes. Ia berhadapan dengan William J. Bryan yang adalah aktivis dari gerakan antievolusi dan seorang fundamentalis tulen. Ia adalah seorang politikus aktif, pernah tiga kali mencalonkan diri untuk menjadi wakil partai democrat untuk calon presiden. Persidangan ini diliput secara besar-besaran oleh media. Meskipun pada Scopes akhirnya diputuskan bersalah (dan pada sidang tahap berikutnya ia dibebaskan), namun bukan hasil akhirnya itu yang paling menentukan, melainkan dampak yang ditimbulkan oleh proses persidangan itu sendiri, bagi fundamentalisme secara keseluruhan di mata publik Amerika.
Tidak kurang dari 100 wartawan berkumpul di Dayton, Tennessee dan melaporkan apa yang terjadi pada saat Darrow memanggil Bryan sebagai saksi, yang dianggap sebagai saksi ahli. Pertanyaan yang diajukan dan jawaban yang diberikan, memberikan kesan kepada publik betapa buruk, naïf dan terkebelakangnya Byran dan kaum fundamentalis pada umumnya. Media massa bukan saja menampilkan sosok Byran, tetapi juga penduduk setempat dan orang-orang sepaham dengan Byran sebagai orang-orang bodoh, dan sangat menentang hal-hal yang secara intelektual seharusnya dihormati, serta bermental kampungan atau ‘southern ’. Tidak mengherankan semua stereotype buruk mengenai kalangan ini berasal dari publikasi di seputar Scope Trial ini, dan benar-benar merusak citra serta reputasi kaum fundamentalis: intoleran, keras kepala, bodoh, kampungan. Rusaknya citra ini juga turut mengakhiri simpati dan dukungan popular dari masyarakat terhadap gerakan ini.
Erickson menyatakan apa yang terjadi dengan Bryan terjadi juga pada banyak orang lainnya. Ketika seseorang ingin membela suatu keyakinan ortodoks, injili, namun karena mereka memasuki kawasan yang sama sekali di luar kompetensi mereka, jawaban yang diberikan menjadi mengada-ada. Orang terpelajar seperti Machen tampak lebih berhati-hati dalam memilih persoalan yang akan diperdebatkannya, berbeda dengan rata-rata pendukung posisi fundamentalisme, yang memang tidak terlatih untuk berpikir dengan baik.
[38] Ellingsen, h. 93-4; Noll (1994), h. 164-69; Marsden (1991), h. 61: ‘fundamentalism was not disappearing but realigning’; McGrath, h. 37, memberikan komentar yang menarik: ‘Like Anabaptism in the sixteenth century, fundamentalism withdrew from what it regarded as a corrupt society and an apostate church. … the approaches that fundamentalists adopted, wheter they were aware of it or not, were more typical of the radical than of the mainline Reformation.’
[39] Marsden (1991), h. 66-8: ‘In the North most clerics favored tolerance of modernism and most lay people did not want a fight. In the South, most of both groups were willing to hold the line with the fundamentalists. By the 1930s the northern white churches were undergoing realignment, as fundamentalists left the major denominations to join or to found independent local Bible churches, or they forsook a more liberal denomination for a smaller, more conservative one. Most fundamentalists, nonetheless, remained quietly within the major denominations, hoping to work within existing structures, especially through conservative local churches. At the same time they increasingly gave their support to a growing network of transdenominational fundamentalist evangelistic agencies’
[40] Marsden, ‘Fundamentalisme and American Evangelicalism’ dalam Dayton & Johnston (1991), h. 28-33; Hutcheson, h. 32-5; Marsden (1991), h. 68-76; McGrath, h. 38-51; Marsden (1988), h. 48-52, 159-171, 181-192, 194-6,
[41] Ellingsen, h. 94-5
[42] Ellingsen, h. 97: ‘a more constructive and less defensive separatist . . . than . . . Fundamentalist’; McGrath, h. 51: ‘As Hans Kűng pointed out recently, the church must find a way between a modernism without foundations and a fundamentalism without modernity. Evangeliscalism is ideally placed to meet this challenge.’ Lints, h. 51: ‘… Antimodernist elements in the movement want clear boundaries to distinguish evanelicalism from the theological liberalism of modernity. Antifundamentalist elements in the movement want a more serious engagement of the modern world and hence a deemphasis of the boundaries separating evangelicals from the modern world.’
[43] List, h. 52-3. Ia juga menyebutkan adanya sejumlah lembaga independen lainnya yang memperkuat identitas, kehadiran dan peran neo-evangelicalism. Pelayanan siswa dan mahasiswa: InterVarsity, Campus Crusade for Christ [1951], Navigators, Young Life [1941], Youth for Christ [1944], Campus Life), badan-badan penginjilan luar negeri (North Africa Mission, South America Mission, Greater European Mission), konperensi misi (Urbana Conference), lembaga pendidikan tinggi (seminari: Fuller, Trinity, Gordon-Conwell, Dallas dan Westminster; colleges: Wheaton, Westmont, dan Gordon) dan badan penerbit (Baker, Zondervan dan Eerdmans).
[44] Hal yang sama masih sering terjadi hingga sekarang, orang yang mengaku injili (dengan asumsi neo-evangelical), namun dalam cara berpikir dan berkomunikasi-bersosialisasi sangatlah fundamentalis militan. Oleh karena itu penting untuk disadari bahwa evangelikalisme sendiri bukanlah suatu konsep yang statis dan tertutup. Penelitian yang dihasilkan oleh para teolog Injili dalam The Variety of American Evangelicalism, menyatakan bahwa sangat sulit merumuskan evangelicalism ini secara tepat. Sebagai suatu kenyataan sejarah, usianya masih sangat muda. Sebagai suatu gerakan keagamaan, ia menyerap banyak tradisi Kekristenan sebelumnya, ditambah dengan persoalan kontekstual Amerika pada masa-masa tertentu, dan menghasilkan sedemikian banyak variasi yang tidak dapat diperdamaikan begitu saja. Paling sedikit kita dapat mengidentifikasi adanya tiga sub-groups besar dalam evangelicalism: kaum fundamentalis, kaum pentakostal-kharismatik dan kaum neo-evangelical. Di antara ketiga kelompok besar ini hubungannya tidak selamanya harmonis. Dan di dalam masing-masing sub kelompok masih terdapat berbagai variasi lagi.
[45] Yang umumnya dikatakan adalah koalisi ini memegang 5 dasar (five fundamentals): verbal inspiration of Scripture as the Word of God; the virgin birth of Christ; substitutionary atonement; the bodily resurrection of Christ; and the second coming. McGrath, h. 55-6, menyatakan ada 6: the supreme authority of Scripture as a source of knowledge of God and a guide to Christian living; the majesty of Jesus Christ, both as incarnate God and Lord and as the Saviour of sinful humanity; the lorship of the Holy Spirit; the need for personal conversion; the priority of evangelism for both individual Christian and the church as a whole; the importance of the Christian community for spiritual nourishment, fellowship and growth. Menyangkut Injili-Baru, R. Quebedeaux: ‘central concern . . . is for a common goal of evangelizing the world for Christ’. Menurut R. Johnston ada 2 prinsip utama: ‘the need for a personal relationship with God through faith in the atoning work of Jesus Christ; the sole and binding authority of the Bible as God’s revelation’. Dan menurut A.C. Piepkorn, ada tiga prinsip yang menyatukan kaum Injili: ‘the complete reliability and final authority of the Bible as the Word of God; the necessity of a personal faith in Jesus Christ as Savior; the urgency of reaching out to evangelize the world for Christ.’
[46] Sejak awal ACCC didirikan oleh McIntire dengan semangat separatis yang kuat. Ia menganggap bahwa NCC/FCC adalah koalisi gereja-gereja liberal yang harus dilawan. Ockenga dan J.E. Wright (1896-1966) memilih untuk tidak menempuh sikap negatif untuk memperjuang agenda konservatif terhadap kalangan modern/liberal, sehingga mereka tidak bergabung dengan ACCC, melainkan membentuk koalisinya sendiri. NAE menjadi istimewa karena mereka menerima juga kalangan Pentakostal, yang oleh ACCC tidak pernah dapat diterima. Dengan demikian NAE dibentuk dengan dorongan yang positif, bukan sekadar menyaingi dan melawan NCC/FCC, namun justru ironinya adalah bahwa mereka pada titik ini mengawali gerak perpisahan dengan kalangan fundamentalis militan-separatis seperti kelompok McIntire.
[47] Paham premillenialisme sangat kuat di kalangan fundamentalis (dan juga Pentakostal), sehingga mereka tidak mampu melihat adanya kemungkinan kebaikan di luar lingkungan mereka sendiri. Menarik dan memisahkan diri adalah konsekwensi logis dari pemahaman ini yang menyatakan bahwa dunia sudah semakin memburuk, menuju kehancuran, tindakan yang benar adalah membiarkannya sambil menunggu kedatangan Kristus yang akan membarui semuanya. Menjauhkan diri dari dunia dan dari gereja-gereja, menyebabkan sikap pesimis yang luar biasa dan anti-sosial yang dalam. Sesudah PD II berakhir, dengan kemenangan yang membanggakan bagi Amerika, terbukalah kesempatan bagi Amerika untuk mempromosikan nilai-nilai Amerika tentang kebebasan, demokrasi, dlsb. Cara berpikir yang pesimistik sama sekali tidak cocok dengan semangat zaman yang ada. Oleh karena itu selama PD II berlangsung, dan terlebih lagi setelah berakhirnya, pandangan premillenialisme-dispensasionalis yang pesimis dan juga mental separatis yang hanya mementingkan kelompok sendiri secara sempit semakin ditinggalkan, terutama oleh angkatan muda yang berpikir lebih positif, optimis, terbuka dan intelek.
[48] McGrath, h. 122.
[49] Hutcheson, h. 47-61
[50] Saya melihat perkembangan ini sebagai suatu pengulangan dari sejarah di dalam tradisi Kekristenan yang lebih tua: pada abad XII-XIII, ketika dunia Kristen (Christendom) di Eropa mencapai tahap kemapanan awalnya, muncul gerakan protes yang popular. Pada saat itu berkembanglah budaya perkotaan (urban civilization), masyarakat yang relatif lebih mapan (well-established society) dan adanya rohaniwan yang ‘liberal’ serta secular (liberal and secularized clergymen), maka muncullah gerakan kesalehan yang dikenal sebagai vita apostolica (gerakan atau kehidupan kerasulan, yang di antara adalah Kaum Waldens dan Kaum Fransiskan; yang satu ditolak oleh gereja yang lainnya diterima sebagai sebuah tarekat di dalam Katolisisme untuk mengakomodasi sekaligus mengontrol gerakan kesalehan baru ini).
[51] Ellingsen, h. 103-04; Marsden (1991), h. 72-3; Marsden (1988), h. 167-71
[52] Harus dikatakan juga bahwa pada akhir abad XIX dan awal abad XX, tidak pernah ada satu pendapat yang padu mengenai bagaimana isi dari doktrin ini secara detail. Bahkan Bryan (dalam Scope’s Trial, 1925, menganggap 1 hari dalam Kej 1 adalah suatu era, bukan satu hari dalam pengertian 24 jam). Di kalangan teolog Injili masa kini (a.l. Francis Schaeffer dan Carl Henry)-pun ada keterbukaan untuk menafsirkan enam hari dalam Kej 1 itu dalam arti yang lebih luas (bukan 6 x 24 jam seperti yang diklaim oleh H. Morris dkk), karena mereka melihat pentingnya mengintegrasikan kesaksian Alkitab dengan hasil kajian ilmiah yang baik.
[53] Ellingsen, h. 218-19; Marsden (1991), h. 158-59, 161.
[54] Noll (1994), h. 188-92
[55] Noll (1994), h. 192-96, 200-208
[56] Noll (1994), h. 1962-208
[57] Ellingsen, h. 105-06; Marsden (1988), h. 277-92; Marsden (1991), h. 76
[58] Marsden (1988), h. 292-98
[59] Hutcheson, h. 88-90, 94-7, 169-74; Siwu, h. 260-347; Ellingsen, h. 107-16
[60] Hutcheson, h. 166-69
[61] Hutcheson, h. 174-78
[62] menurut urutan tahun penerbitan dan revisinya

0 Comments:

Post a Comment

<< Home